Beli Barang Branded : Keinginan atau Kebutuhan?

Kalau ada satu hal baik yang bisa dinikmati selama masa work from home ini, buat saya tentu saja betapa leluasanya saya dapat berseluncur di website e-commerce. Kalau kerja di kantor dan tiba-tiba merasa perlu beli sesuatu secara online, saya akan diam-diam buka aplikasi di handphone sambil memastikan tidak ada pegawai lain yang memperhatikan gerak-gerik belanja saya. Tapi di masa work from home, dengan begitu percaya diri saya bisa buka website Tokopedia di layar laptop dan scrolling through the pages sambil menunggu balasan email hehe

Racun memang, aplikasi-aplikasi belanja online itu. Cukup lihat-lihat beberapa menit, kadang baca ulasan dari pembeli lain, lalu bisa langsung yakin untuk check out barang dimaksud. 

Alhamdulillahnya (kalau itu memang bisa dibilang berkah), saya merasa kalau selera belanja saya relatif tahu diri. Saya merasa lebih bahagia kalau bisa beli dua potong baju gemes produksi brand lokal UMKM dengan menghabiskan Rp 150.000 per potong baju, daripada beli satu designer piece dengan harga mendekati Rp 1.000.000. 

Meski kadang-kadang ya ada gitu rasa penasaran dalam hati, kayak apa sih rasanya ngantor pakai sepatu Tory Burch yang harganya SEPULUH JUTA? 

Dari rasa penasaran itu, saya lebih jauh bertanya pada diri. Apa iya saya memang butuh sepatu sepuluh juta untuk mendukung performance bekerja? Apakah rasa penasaran itu sebetulnya hanya manifestasi keinginan untuk bisa dianggap setara dengan orang-orang yang pakai sepatu sepuluh juta itu?

Kalau saya duduk di level Direksi yang setiap hari bertemu dengan high level executive lain yang somewhat perlu dibuat terkesan, mungkin sepatu sepuluh juta adalah kebutuhan. Tapi level pegawai biasa seperti saya yang duduknya masih di kubikel, sepertinya beli sepatu di Payless saja sudah lebih dari cukup.

Lalu kenapa saya masih suka penasaran mau beli barang-barang produksi designer kenamaan? Sepertinya sudah jelas bahwa itu hanya hawa nafsu saja (yang jelas harus dikendalikan). Misalnya ketika saya ingin beli scarf dari Sejauh Mata Memandang karena beberapa kali melihat Adinia Wirasti, Dian Sastrowardoyo, dan wanita-wanita ayu lainnya yang memakai brand tersebut. Atau ketika saya ingin sekali punya baju rancangannya Ria Miranda karena ada teman kantor yang sering berangkat kerja wearing Ria Miranda from head to toe. And do I need to add kalau teman kantor saya itu cantik sekali? Jadi mungkin saya berharap dengan pakai baju dari designer tertentu, saya bisa terlihat secantik Adinia Wirasti, Dian Sastro, atau teman kantor saya yang dari lahir sudah cantik itu.

Lucu ya betapa marketing campaign, pemilihan brand ambassador, dan loyal customer dari suatu brand bisa betul-betul meng-influence saya untuk penasaran dengan suatu brand. Tapi kalau dipikir lagi, that is not me and that is just not for me. Jadi kalau suatu saat lihat saya pakai item branded, percayalah bahwa itu pasti hadiah atau hibah dari orang-orang terdekat.

Comments

Popular posts from this blog

It used to suck

Kompetisi Menulis Skripsi

sudah disini, lalu apalagi?