The Perks of Being a Member of Working Class

One day I had a chance to spend the night in a decent hospital located in Jalan Jenderal Gatot Subroto. Salah satu jalan protokol Jakarta dimana puluhan gedung pencakar langit berdiri di kanan kirinya dan ratusan kendaraan melintas tanpa henti dari malam sampai pagi.

Saya terbangun pukul empat pagi dan menemukan banyak kendaraan bermotor yang sudah wara wiri Gatsu meski mentari belum muncul. Kebanyakan truk, mungkin bagian dari rantai distribusi yang mengantar bermacam barang kebutuhan sehari-hari. Banyak pula pengendara motor atau mobil pribadi, entah mereka yang baru menyelesaikan shift malam dan menuju peraduan, atau mereka yang sudah bangun sejak dini hari dan bersiap memulai pekerjaan.

I thought to myself, wow, Jakarta. Kamu dan segala kompleksitasmu. You and all of your magic. Kamu yang dipenuhi jutaan orang yang terus mengeluh soal beratnya hidup. Kamu yang jadi saksi bahwa para pengeluh itu lalu bangun tiap hari dan mencoba bertahan sehari lagi.

Sudah hampir lima tahun saya merantau ke Jakarta dan menjadi bagian dari the so called working class. Hidup saya mungkin jauh lebih menyenangkan daripada sebagian besar working class di Jakarta. Namun tentu dalam kurun waktu lima tahun ini saya pernah menemukan diri saya berkeringat menyeberangi halte busway, berlarian mengejar commuter line, naik ojek melewati gang-gang sempit pinggir sungai, dan tempat-tempat lain yang membuat saya bertanya, "How do people live this way?"

Sebagai seorang tenaga kerja yang hidup bahagia di tanggal 25 dan mulai resah di tanggal 10, kadang saya berandai-andai bagaimana rasanya lahir jadi orang yang tidak perlu bersusah payah. Misalnya seperti orang-orang yang punya nyali untuk makan di fine dining restaurant dan menghabiskan dua juta rupiah untuk satu sesi makan, just because it's a way of life for them and they can afford that. Tapi sering kali ketika pikiran tersebut muncul, ada pikiran lain yang tidak kalah cepat membayangi. Bagaimana kalau saya terlahir jadi orang yang living from meal to meal, instead of living from paycheck to paycheck?

Kalau saya terlahir sebagai orang "miskin", those who do not have a proper roof over their heads, those who do not always have meals on their table, will I survive? Bukan sekadar survive dalam arti bertahan hidup, tapi mampukah saya memaknai hidup? Mampukah saya mengambil hikmah dari ujian dan kesulitan hidup yang menjadi bagian dari saya sejak lahir? Kemungkinan besar saya akan hidup sebagai seseorang yang terus mengutuki nasib dan marah sama Tuhan.

Kalau saya terlahir sebagai orang "kaya", mereka yang orang tuanya menduduki jabatan penting di perusahaan, mereka yang belajar di sekolah internasional, will I be able to use my fortune to do good things? Mampukah saya menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk membantu sesama? Akankah saya punya cukup waktu untuk Tuhan? Jangan-jangan saya hanya akan jadi pribadi yang sibuk dengan urusan duniawi.

So really, at 4 am in the morning that day, I came to a conclusion that we the working class are the real winner. We, or more precisely I, have all that I need to live a comfortable life. Dalam ukuran yang tepat, tidak kurang, tidak lebih. 


Comments

Popular posts from this blog

It used to suck

Kompetisi Menulis Skripsi

sudah disini, lalu apalagi?