Posts

I Would Not Have Known

What is meant for you, will reach you even if it is between two mountains; And what isn't meant for you, won't reach you even if it is between your two lips.
As days go by, I have come to understand the meaning of such quotes. Not just getting to know the literal meaning of each word, but trying to wholeheartedly accept the consequence that lies within the quote . 
Tentu, tidak jarang ada suara lain dalam hati saya yang mengeluh, merasa kecewa, dan sulit untuk menerima keadaan yang sedang saya hadapi. Suara yang kerap kali berbicara dengan nada yang saya tidak sukai. Meski pada akhirnya saya harus berani mengakui bahwa suara itu kurang lebih merupakan bagian dari diri sendiri.
Tentu, ada kecil hati yang saya rasakan ketika teman-teman seangkatan di masa kuliah dulu sudah berkesempatan untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan menambah satu gelar lagi di belakang namanya.
Tentu, ada kecil hati yang saya rasakan ketika seolah-olah semua orang di sekitar saya mantap …

On Getting A Second Chance and Becoming A Voice

Saya rasa kita semua setuju bahwa tahun 2018 ini memberi kita begitu banyak kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih sabar dan senantiasa bersyukur. Begitu banyak fenomena alam yang mengantarkan saudara-saudara kita kembali kepada Sang Pencipta. Semoga menjadi pengingat untuk kita yang ditinggalkan untuk selalu waspada karena kepulangan kita kepada Yang Maha merupakan sebuah keniscayaan. Di tengah naik turunnya iman kita, mudah-mudahan selalu ada kesempatan untuk menabung amal baik sebanyak-banyaknya.
Quite funny to think that earlier this year I wrote something about my new year resolution to become a more patient person. Tidak butuh waktu lama, Allah langsung menjawab doa saya tersebut beberapa bulan kemudian. I also wrote about it on here. Bukan iman namanya kalau tidak diuji olehNya. Buat kita yang sedang dalam keadaan sehat, bahagia dan berkecukupan, mungkin tidak sulit untuk mendeklarasikan diri sebagai hamba yang beriman. Tapi di tengah kondisi tak pasti seperti yang sedang d…

When You Know, You Know

Growing up, I was always wondering when the time would be for me to meet The One. I know a lot of young girls grow up and become a completely developed mature woman who has other dreams and priorities, instead of focusing on just finding Her One.
I, on the other hand, keep that wish with me all through my teenager life up until now, when I would define myself as a woman. I still wonder when the time is for me to meet The One.
Who exactly is, The One? The woman/man of one's dreams, the soulmate, or the love of of one’s life, as cheesy relationship articles always refer to. When do they come around? How do we know that they have come?
Time and time again, I always hear people say: when you know, you know. When The One God created for you comes along, you will know. But technically and realistically, how do I know?
Is he The One if I feel butterflies in my tummy when I am with him? Is he The One if he continuously inspires me to write beautiful poetry of how wonderful life is when …

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

06 April 2018 Jumat cerah di Jakarta, tidak ada yang lebih istimewa dari mendapati salah satu manusia yang paling saya cintai di muka bumi sedang berkunjung. Ibu saya datang memenuhi janjinya menemani saya mencari kain di Pasar Mayestik. Di usia-usia seperempat abad seperti saya ini, kegiatan mencari kain di Pasar Mayestik mungkin menjadi kegiatan yang sangat berarti.
You find yourself stranded among these piles of fabric with different colors and textures; on the other corner you find your mother and your soon-to-be mother chatting and laughing and choosing the right fabric for your big day. And there exactly I was.
Ada rasa waswas mengetahui kegiatan pilih kain ini akan bemuara pada sebuah gerbang yang disebut pernikahan. Not just a one day wedding, but a lifetime marriage. Tapi di atas rasa itu, ada kebahagian yang memenuhi setiap senti dari keberadaan saya, yang rasanya bisa tumpah kapanpun dia mau.
That, and also a pain in my tummy. Sejak Kamis malam, ada rasa pedih yang cukup mengga…

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018

Bulan Desember hingga Januari menjadi waktu yang sering dipakai banyak orang untuk merefleksikan hidup dan menyusun rencana untuk masa depan. Selama hampir seperempat abad kehidupan saya, tidak jarang saya ikut-ikutan menyusun daftar resolusi yang ingin saya capai di tahun berikutnya.

Mulai dari janji untuk menyelesaikan satu buku setiap bulan, menulis lebih sering di blog ini, berkomitmen pada pola makan yang lebih sehat, belajar memasak, lebih rutin berolah raga. You name it, I have set my mind up to do it all.

Hampir di setiap tahun, terutama di tiga bulan pertama, biasanya saya masih ingat dan semangat to stick with the commitment. Apa mau dikata, bulan-bulan berikutnya saya cenderung tenggelam dalam bermacam kesibukan (dan alasan) sehingga akhirnya lebih memilih untuk istirahat setiap ada waktu luang.

Bad example, I know.

Tahun 2017 saya tutup dengan keyakinan bahwa tahun berikutnya akan menjadi tahun yang adventurous. Insya Allah akan ada tanggung jawab baru yang mungkin berat, n…

Self Publishing More, Self Editing Later (As You Go On)

Waktu saya kecil, televisi bisa dibilang sebagai salah satu hiburan terbaik bagi saya. Bagaimana tidak? Ais kecil yang dulu hanya sekolah dari pagi sampai siang, punya banyak sekali waktu untuk dihabiskan sebelum diajak tidur di malam hari. Televisi yang dulu masih sangat digdaya itu, menawarkan banyak sekali hal untuk dilihat tanpa perlu beranjak dari tempat duduk. Long story short, saya sangat menikmati waktu yang saya habiskan untuk menonton televisi.

Kesenangan menonton televisi mulai berkurang saat saya duduk di bangku sekolah menengah atas. Durasi jam belajar di sekolah yang hampir seperti pegawai kantoran (pukul 06.30-16.30), ditambah kegiatan organisasi atau les tambahan sepulang sekolah, membuat saya mulai mendua dari hobi menonton televisi. Kebetulan waktu saya masih di SMA, kami semua sedang diperkenalkan pada sebuah hal baru bernama social media. Saya ingat betul ketika teman-teman saya mengajarkan saya untuk membuat akun Friendster di sela-sela pelajaran TIK di laboratori…

Menjadi Wanita yang Multidimensi

Membahas mengenai wanita dan segala lapisan yang mengelilinginya, saya pikir hanya menjadi topik yang tiada habis-habisnya. Dari mulai restoran-restoran hype yang bisa dicoba saat kencan hingga vendor pernikahan yang helpful dan tetap affordable. Atau menyoal fluktuasi harga cabai di pasar tradisional sampai merek gendongan bayi dan variasi makanan pendamping ASI.
Tidak peduli seberapa pendiam seorang wanita, we enjoy –if not love- talking about us being a woman and other women in general.
Di umur saya yang hampir seperempat abad ini, saya mulai terlibat dalam banyak pembicaraan mengenai transisi dari menjadi seorang anak menjadi seorang istri, dan lebih lanjut menjadi seorang ibu.
Some extremely serious stuff we’re about to go over, aye?
Tentu teman-teman semua sudah berkali-kali mendengar mantra “we all have our own timeline”, atau “we’re not early, we’re not late, we’re very much on track” dan mantra-mantra lain yang intinya mencoba meyakinkan kita bahwa semua berjalan baik-baik saja d…