Self Publishing More, Self Editing Later (As You Go On)

Waktu saya kecil, televisi bisa dibilang sebagai salah satu hiburan terbaik bagi saya. Bagaimana tidak? Ais kecil yang dulu hanya sekolah dari pagi sampai siang, punya banyak sekali waktu untuk dihabiskan sebelum diajak tidur di malam hari. Televisi yang dulu masih sangat digdaya itu, menawarkan banyak sekali hal untuk dilihat tanpa perlu beranjak dari tempat duduk. Long story short, saya sangat menikmati waktu yang saya habiskan untuk menonton televisi.

Kesenangan menonton televisi mulai berkurang saat saya duduk di bangku sekolah menengah atas. Durasi jam belajar di sekolah yang hampir seperti pegawai kantoran (pukul 06.30-16.30), ditambah kegiatan organisasi atau les tambahan sepulang sekolah, membuat saya mulai mendua dari hobi menonton televisi. Kebetulan waktu saya masih di SMA, kami semua sedang diperkenalkan pada sebuah hal baru bernama social media. Saya ingat betul ketika teman-teman saya mengajarkan saya untuk membuat akun Friendster di sela-sela pelajaran TIK di laboratorium komputer. Betapa menyenangkannya mampir ke akun teman-teman dan saling tagih untuk memberi testimoni :p

Era social media terus berlanjut dengan kehadiran Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, Path, Askfm, dan platform-platform lain yang terus muncul tanpa ampun. Kebutuhan untuk menghibur diri dengan menonton televisi menjadi semakin berkurang setiap hari.

Salah satu platform yang paling setia saya gunakan yaitu blog ini. Adalah Ayah saya, yang bertanggung jawab atas hal tersebut. Saya bukan orang yang paling konsisten dalam menulis, bukan juga orang yang paling kreatif dalam membuat konten seru. Tapi kepercayaan Ayah saya tidak pernah surut. Beberapa minggu lalu beliau mengirim pesan singkat melalui WA :
"Hampir aja lupa bayar perpanjangan domain kakak, Happy blogging ya!" yang disertai dengan screenshot pembayaran domain blog saya. (Ayah saya merasa bahwa penulis profesional harus punya domain sendiri dan tidak mengandalkan domain gratis -not to say that free domain is bad)

Mengingat hal tersebut saya selalu malu. Betapa besar dukungan Ayah saya terhadap hobi menulis saya yang pasang surut, dan betapa pandainya saya dalam membuat alasan untuk tidak menulis.

Kemarin, saya tidak sengaja menemukan sebuah video yang memberi saya perspektif baru terkait dunia tulis menulis. Video tersebut diunggah di situs Youtube oleh seseorang bernama Matthew Hussey.

Barangkali sudah setahun terakhir ini saya rutin menonton video-video Mas Matthew. Matthew Hussey is a British author, responsible for a New York Time best seller titled Get The Guy. Bisa ditebak ya, sebagian besar dari konten videonya memang membahas dinamika romansa pria dan wanita. Mas Matthew ini sepertinya ingin membantu para wanita untuk lebih memahami perspektif pria so they could go on and have a better and more fulfilling relationship.

Some of you readers might find this very amusing. Kesannya saya desperate banget ya, sampai harus menonton video-video semacam ini dari seorang love-coach.

Tapi buat saya pribadi, video-video Mas Matthew sangat membantu saya untuk lebih memahami cara berpikir laki-laki. Dengan harapan saya bisa lebih memahami laki-laki dalam hidup saya seperti Ayah, Pacar, teman-teman, dan para kolega di kantor. Tidak hanya itu, saya merasa saran-saran yang disampaikan dalam video Mas Matthew sangat applicable untuk kehidupan kita secara umum, bukan hanya urusan percintaan :p

Misalnya video yang saya tonton kemarin yang berjudul "How to Avoid Awkward Silence in Dating". Saya sendiri kurang sreg dengan judulnya. Menurut saya, dengan siapapun kita romantically involved with, seharusnya tidak ada lagi yang namanya awkward silence. Memang waktu yang dihabiskan dengan pacar atau significant other kita tidak selalu diisi dengan pembicaraan-pembicaraan berbobot. Tapi bukan berarti silence itu akan menjadi sesuatu yang awkward. Siapapun pasanganmu, seharusnya kamu tetap bisa menikmati the absence of conversation between the two of you.

Oke, sepertinya saya jadi keluar batas.

Singkat cerita, meskipun saya kurang sreg dengan judul video tersebut, toh tetap saya tonton juga.
Ternyata dalam video tersebut Mas Matthew menjelaskan bahwa sebagai manusia, banyak sekali dari kita yang hidup dalam ketakutan bahwa apa yang kita katakan tidak cukup baik. Mirip seperti konsep the writers' block, seseorang yang notabene penulis seolah-olah kehabisan hal untuk ditulis dan akhirnya tidak menulis sama sekali. Hal tersebut bisa jadi lahir dari kekhawatiran bahwa yang mereka ingin tulis tidak cukup baik.

Dalam berbicara, or in my case dalam menulis, kita sering sekali being too hard on ourselves dengan berekspektasi terlalu tinggi terhadap apa yang akan kita katakan atau akan kita tulis. Misalnya kita berharap bahwa joke yang kita ceritakan akan membuat seisi ruangan tertawa, atau tulisan yang kita publikasikan akan membuat ratusan orang terkoneksi dan merasa tercerahkan.

Harapan-harapan ini kemudian menjadi ketakutan.
What if it's not good enough? What if I am not good enough?

Bagaimana kalau kita sudah sepenuh hati menceritakan sesuatu yang lucu tapi tidak ada satu orangpun yang tertawa? Bagaimana kalau kita sudah mempublikasikan suatu tulisan tapi ternyata hanya sedikit yang membaca?

Ketakutan tersebut akhirnya membuat kita menjadi seorang self editor instead of a self publisher. Jadi bukannya berbicara atau menulis (self publish), kita terus-terusan menunda dan memperbaiki cerita atau tulisan kita dalam hati (self edit).

Mendengar penjelasan Mas Matthew tersebut, saya berteriak dalam hati dan memaki diri sendiri. Betapa saya sering menemukan hal yang membuat saya ingin menulis, namun kemudian urung karena saya merasa hal tersebut tidak akan terlalu seru untuk dibaca.

I constantly edit my thoughts instead of letting them out in the air and be published.

Seharusnya saya selalu ingat, bahwa untuk menjadi penulis yang lebih baik, yang harus saya lakukan adalah terus menulis. No matter how lame and shitty it might come across.

Dengan banyak menulis, saya tahu mana saja yang baik dan mana saja yang kurang baik. As I go on and publish my thoughts, I can edit them and publish even better in the future. Jangan sampai saya terus-terusan mengedit bahkan sebelum saya sempat mempublikasikan sesuatu.

May this writing be a reminder for me to self publish more and self edit later (as I go on).

Comments

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

I Would Not Have Known

When You Know, You Know