Refleksi Diri dari Pertanyaan "Sudah Hamil Belum?" yang Muncul Saat Lebaran

Momen Lebaran lekat dengan kesempatan untuk kembali terkoneksi dengan mereka yang tersayang. Bagi anak muda Indonesia -garis bawah perspektif anak muda, karena saya belum punya pengalaman menjadi orang tua-, momen Lebaran bisa jadi ajang silaturahmi yang ngeri-ngeri sedap. Sebagian besar dari kita pasti pernah merasa kaget, sebal, bahkan jengah dengan rentetan pertanyaan klasik yang sering dilontarkan sanak saudara yang biasanya memang hanya bertemu setahun sekali semacam :
"Wah tahun depan lulus SMA ya, mau lanjut kuliah dimana?"
"Sudah mau lulus kuliah aja nih bentar lagi, rencananya mau ngelamar kerja kemana?"
"Kamu udah sekian tahun kerja, kapan mau ketemu jodohnya kalau sibuk cari uang terus..."
"Eh ini ada pengantin baru, kapan mau kasih cucu buat mama papa?"

Seolah semua lulusan SMA harus pasrah dan jadi anak kuliah, padahal siapa tahu mereka mau langsung cari duit sebagai influencer. Seakan semua lulusan universitas harus kerja di gedung kantoran, amit-amin kalau 'cuma' jadi wiraswasta. Seolah menikah semudah beli baju baru lewat online shop. Seakan punya anak bukan amanah seumur hidup dan orang tua bisa mengajukan cuti panjang kalau sedang bosan.

Ya itulah kultur ketimuran kita yang doyan ikut campur dengan pilihan hidup orang-orang di sekitar kita. Mungkin bukti kepedulian. Mungkin kumpulan dari faktor ini-itu yang sulit kita jelaskan. Tapi jelas kita harus mencoba semaksimal mungkin untuk berdamai dengan kultur tersebut.

Lebaran tahun ini, Alhamdulillah genap setengah tahun saya resmi menikah. Meskipun ada situasi unprecedented yang mengharuskan saya dan suami menghabiskan Lebaran pertama kami secara berjauhan, silaturahmi dengan sebagian kecil sana saudara tetap kami jalani. Bagi saya, tradisi silaturahmi setelah menyandang status pengantin baru ini terasa sedikit lebih berat. 

Selain karena sendu dan rindu setelah sebulan lebih tidak berjumpa dengan suami, saya merasa sedikit terbebani karena harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan klasik khas Lebaran seorang diri. Topik seksi untuk pasutri baru tidak lain dan tidak bukan adalah soal momongan. Dari mulai doa tulus supaya Lebaran selanjutnya kami punya anggota baru, saran bernada perintah untuk makan kurma varian tertentu supaya segera hamil, sampai pertanyaan blak-blakan hey kamu sudah isi atau belum :))

Saya ingin menulis ini bukan untuk marah-marah kepada siapapun yang bertanya soal isi rahim kepada seorang wanita yang baru menikah. Tapi setelah menikah, saya berusaha berbesar hati dan menjadikan topik ini sebagai topik refleksi diri dan diskusi dengan suami.

Yang pertama dan terutama, saya percaya kalau punya anak itu urusan yang ngga main-main. Punya anak bukan sekedar item yang harus dicoret dari wishlist kita. Punya anak bukan tolak ukur membahagiakan diri sendiri atau orang tua. Punya anak bukan sekedar konsekuensi ibadah di ranjang dari suami dan istri.

Saya pikir saya sudah merasa yakin sejak dini bahwa saya ingin menjadi seorang ibu. Tapi melihat teman-teman seumuran saya yang sudah bertransformasi menjadi seorang ibu, and how fucking exhausting that is, both physically and mentally, saya berusaha mawas diri. 

Kalau ada yang bilang menikah itu komitmen seumur hidup yang harus dipikir masak-masak, saya merasa setuju dan tidak setuju. Tentu semua pasangan yang menikah berharap ini akan jadi hal yang dibawa sampai mati. But in reality, you may or may not get there. Technically you can un-marry yourself and get a divorce. But when you decide and God allows you to have a child, it is a commitment you take to your grave. Ada istilah mantan suami, tapi tidak ada istilah mantan anak kan?

So here goes a letter to myself, and to all women who are embarking on a journey of becoming a wife and hopefully a mother someday.

You are worthy. Not having a child yet, or ever, does not make you less valuable. Someday when you do become a mother, I hope you don't give up on your old self. I hope you don't get lost in the overwhelming and humbling chapter of motherhood. I hope you take care of yourself and continue to grow as a person. 

To all my friends who are mothers, and certainly all the mothers in my life,
I salute you. Thank you for being badass creatures that allow us kids to always feel safe. Thank you for being the epicenter of our universe. Semoga Allah bangunkan rumah di surga sebagai balasan dari kebaikan dan kasih sayang kalian. Thank you, thank you, thank you.

Comments

Popular posts from this blog

It used to suck

Kompetisi Menulis Skripsi

sudah disini, lalu apalagi?