On Finding Greater Purpose in Life

"Kamu ingat ngga anak kecil baju putih celana oren? Aku dapat kabar dia meninggal karena demam berdarah. Ini aku mau ngelayat."

Sebaris pesan dari Masyan pagi ini. Anak kecil laki-laki berbaju putih bercelana jingga that he bonded with on New Year's eve has passed away. Anak kecil yang mungkin baru sepuluh tahun usianya. Anak kecil yang mungkin belum sadar betapa kejamnya persaingan di dunia nyata. Anak kecil yang selama hidupnya mungkin memahami bahagia dari berapa banyak uang jajan yang diterimanya dan berapa banyak yang bisa dia simpan untuk membeli barang lain yang lama diidamkan.

Logika saya sempat tidak terima. Bukan karena saya merasa Allah tidak adil. Tapi kemampuan saya yang terbatas, sesaat kesulitan memahami. He was perfectly healthy on New Year's eve, which was less than three months ago. He suffered from dengue fever, not a heart attack or a severe head injury from car accident, which I know a lot of people recover from. 
A lot of people, maybe even me, have greater risks and higher chances of dying than this child.

Tapi ketika Allah berkehendak, maka jadilah.
Ketika Allah cukupkan usia si adik, maka cukuplah.
Dan kembalilah dia pada dzat yang menciptakannya dulu.

"Apabila telah tiba waktunya yang ditentukan bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula mendahulukannya..." (QS An Nahl : 61)

Kepulangan sesama manusia kepada sang Maha sesungguhnya jadi pengingat untuk kita. Bahwa cepat atau lambat, giliran kita akan tiba juga. Bahwa kematian adalah sebuah keniscayaan. Sesuatu yang tidak perlu kita anggap tabu dan hindari untuk bicarakan. Sesuatu yang harusnya kita persiapkan kedatangannya dengan sebaik-baiknya.
.
.
.

This brings me back to my boss at the office.
On a Monday morning he once asked us, what is your purpose?
Apa yang membuat kalian bangun pagi, mandi, berangkat ke kantor, kerja sampai malam, dan mengulang rutinitas tersebut minimal lima kali dalam seminggu?

Jawaban paling primitif dan tentunya masuk akal tentu mencari nafkah.
Some has family to feed, bills to pay, a roof over their head.
Tapi setelah sejumlah dana dikreditkan di tanggal 25 (yang kemudian kita debit berkali-kali itu), apa selanjutnya? What keeps you going?

I am more than fortunate to be able to work in a state owned company.
Sekecil apapun tugas dan fungsi saya kelihatannya, saya berkeyakinan bahwa saya punya peran untuk membangun negara ini. Bahwa entah bagaimana prosesnya dan serumit apapun alurnya, saya punya kontribusi untuk membantu seorang ayah membeli rumah untuk keluarganya, seorang wirausahawan mengembangkan bisnis dan memberdayakan karyawannya, sebuah perusahaan konstruksi membangun infrastruktur dan membantu hajat hidup masyarakat Indonesia.

And I sure hope that's enough to keep me going every day.
Enough for me to embrace every aspect of my being
Yang kadang lelah bergumul dengan deadline dan layar komputer setiap hari.
Yang kadang bersitegang dengan partner bisnis dalam meeting.
Yang kadang merasa ada di ujung jalan buntu where whatever I do will not matter anymore.

For now I hope that's enough.
Sampai suatu hari nanti Allah izinkan saya untuk menemukan purpose lain di dunia ini.
Mungkin kelak Allah izinkan saya jadi stay at home mom yang seharian masak dan mengurus anak-anak.
Atau menjadi guru di sekolah where I teach kids to be kind and unapologetically themselves.

For now I hope we acknowledge the very blessing that we are alive. 
That even though we're not promised tomorrow, we have today.
And in between everything we do today, I hope we find purpose.

May whatever our purpose be, it generates goodness for the world and mankind.






Comments

Popular posts from this blog

When You Know, You Know

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018