Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018

Bulan Desember hingga Januari menjadi waktu yang sering dipakai banyak orang untuk merefleksikan hidup dan menyusun rencana untuk masa depan. Selama hampir seperempat abad kehidupan saya, tidak jarang saya ikut-ikutan menyusun daftar resolusi yang ingin saya capai di tahun berikutnya.

Mulai dari janji untuk menyelesaikan satu buku setiap bulan, menulis lebih sering di blog ini, berkomitmen pada pola makan yang lebih sehat, belajar memasak, lebih rutin berolah raga. You name it, I have set my mind up to do it all.

Hampir di setiap tahun, terutama di tiga bulan pertama, biasanya saya masih ingat dan semangat to stick with the commitment. Apa mau dikata, bulan-bulan berikutnya saya cenderung tenggelam dalam bermacam kesibukan (dan alasan) sehingga akhirnya lebih memilih untuk istirahat setiap ada waktu luang.

Bad example, I know.

Tahun 2017 saya tutup dengan keyakinan bahwa tahun berikutnya akan menjadi tahun yang adventurous. Insya Allah akan ada tanggung jawab baru yang mungkin berat, namun saya yakin dengan izinNya serta kasih sayang dari orang-orang terdekat, I will make it through.

Tahun 2018 saya mulai dengan satu harapan yang tidak muluk-muluk : saya ingin menjadi orang yang sabar.

.
.
.

Seumur hidup saya menyadari bahwa saya adalah orang yang sangat mencintai keteraturan. Dampaknya, secara tidak sadar I put too much expectation on people and on things in general.

Misalnya ketika saya janjian dengan seorang teman pada pukul 10, saya sangat berekspektasi bahwa teman tersebut akan datang tepat waktu. Kalaupun terpaksa datang terlambat, saya sangat berharap they will let me know. Jangan sampai terlambat 30 menit dan membuat saya menunggu, lalu dengan santainya mengeluh karena terjebak macet.

Ketidakteraturan sesepele itu, bisa sangat mengganggu perasaan saya. Mood bisa kacau sepanjang hari and I end up over thinking if I should still surround myself with that kind of person. 

Kacau banget ya saya? Betapa hal-hal sepele yang seharusnya bisa saya brush off easily malah melukai perasaan saya secara berlebihan.

Saya jadi teringat pada acara makan malam saya dengan mas pacar di sebuah restoran ayam goreng di bilangan Panglima Polim beberapa bulan yang lalu. Seperti biasanya, restoran tersebut sangat padat pengunjung. Alhamdulillah kami yang kelaparan langsung mendapat tempat duduk dan tanpa babibu segera memesan 1 ekor ayam goreng, 1 porsi ati ampela, 1 porsi usus, dan 1 porsi kol goreng.

Saya yang (self proclaimed) sangat mencintai keteraturan ini, lantas membayangkan nikmatnya sesuap nasi hangat ditambah ayam dan kol goreng yang berminyak itu. Sekitar 20 menit kemudian, semua pesanan kami datang kecuali kol goreng yang sudah saya bayangkan sejak tadi.

Saya dan mas pacar memutuskan untuk makan duluan dengan harapan bahwa si kol goreng akan datang tidak lama lagi. Unfortunately, sampai nasi kami hampir habis kol goreng ini tidak diketahui dimana keberadaannya. Beberapa kali kami konfirmasi kepada waiter selalu dijawab "Sebentar ya lagi digoreng".

Akhirnya dengan mood yang tidak karuan dan ekspresi muka yang lebih tidak karuan lagi saya hampiri meja kasir dan menuntut hak saya atas kol goreng tersebut. Kebetulan saya punya kebiasaan bahwa dalam setiap suapan saya harus ada seluruh komponen dari makanan mulai dari nasi, sayur, dan daging. Ketika keteraturan tersebut tidak tercapai, saya bisa merasa sangat gelisah.

Malam itu nikmatnya Ayam Goreng Berkah tidak bisa saya rasakan seutuhnya karena sibuk menggerutu dalam hati.

Kenapa sih tinggal nyelupin kol ke dalam minyak aja bisa kelewat?
Kenapa sih mas pacar malah diem aja dan ngga membela saya ketika kol goreng idaman tak kunjung datang?
Kenapa sih perkara makan ayam tanpa sayur saja membuat saya kesal?

Ketika makan malam akhirnya selesai dan kami kembali ke mobil, saya lantas meminta maaf kepada mas pacar sudah marah-marah karena hal yang sepele. To which he simply replied, "Iya aku orangnya pasrah banget kali ya, kalo kolnya ngga dateng ya dibatalin aja pesenannya"

Saya tertunduk malu.
It is so typical of me untuk buru-buru merasa kesal and do or say things I might later regret.

.
.
.

Lalu siapakah Sabrina yang menjadi judul tulisan ini?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya harus bercerita tentang seorang rekan di kantor yang bernama Mas Dede :p

Mas Dede ini susah sekali menghafal nama orang-orang di sekitarnya. Jadi sudah menjadi kebiasaan untuk memberi nama panggilan baru buat rekan kerja di kantor. Biasanya, nama panggilan tersebut terinspirasi dari nama artis yang menurut Mas Dede mirip dengan orang di kantor.

Misalnya seorang rekan dipanggil Eza karena kulitnya putih dan dianggap mirip Eza Gionino.
Ada juga yang dipanggil Luna karena dirasa cantik dan langsing seperti Luna Maya.
Atau rekan lain yang dipanggil Agnes karena lincah dan energik seperti Agnes Monica.

And yes, you might have guessed it, Sabrina merupakan panggilan Mas Dede untuk saya.
Bingung juga ya Sabrina ini artis di bidang apa? Menurut keterangan Mas Dede, Sabrina ini adalah tokoh dalam salah satu sinetron favoritnya, yang dirasa cocok dengan kepribadian saya.

2 tahun lebih saya bekerja di kantor yang sekarang, Mas Dede dengan konsisten memanggil saya Sabrina. Sepertinya masih bisa dihitung dengan jari, berapa kali beliau memanggil saya Mba Icha.

Lantas apa hubungannya Sabrina dengan harapan saya untuk menjadi orang yang sabar?
Usut punya usut, nama Sabrina ini bisa diartikan sebagai perempuan yang sabar.

Oleh karena itu saya berdoa agar di tahun ini dan di tahun-tahun selanjutnya, Allah mengizinkan dan membimbing saya menjadi perempuan yang sabar.

Sekarang, setiap pesan makanan atau minuman di restoran dan ditanya atas nama siapa, saya kerap kali menjawab : "Atas nama Sabrina".



Comments

Popular posts from this blog

When You Know, You Know

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

I Would Not Have Known