Menemukan Keseimbangan antara "I Love You Anyway" Dari Mocca dan "Jangan Cintai Aku Apa Adanya" Milik Tulus

Bagi saya, hanya ada dua jenis musik di dunia ini. 
Musik yang saya suka dan musik yang saya tidak terlalu suka.

Kenapa klasifikasinya sangat luas namun cenderung egois?
Ya namanya juga pendapat. Tidak perlu alasan pembenar apalagi alasan pemaaf, kan?
You too are allowed to make your own classification.

Jenis musik -atau untuk kepentingan tulisan ini- jenis lagu yang saya suka biasanya dibagi lagi ke dalam dua golongan kecil.

Golongan pertama, adalah lagu-lagu Top 40 yang sering diputar di radio, terdengar saat sedang berada di pusat perbelanjaan, you name it.
Lagu-lagu seperti ini, biasanya hanya lagu-lagu permukaan yang bisa kita nikmati sesaat, tapi tidak mengajak pendengarnya untuk memproses lagu tersebut lebih jauh.

Yang saya maksud dengan memproses lagu tersebut lebih jauh adalah : the fact that the particular song makes you think. It makes you wonder what went through the artist's mind when they wrote it.
Membuat pendengar penasaran dan menerka-nerka situasi semacam apa yang dilalui si penulis lagu. Ini merupakan golongan yang kedua.

Contohnya lagu Di Udara milik Efek Rumah Kaca.
Saya pribadi sih bukan penikmat musik indie yang mengikuti betul perjalanan musik Efek Rumah Kaca apalagi sampai hapal semua lirik lagunya. Kebetulan beberapa hari yang lalu saya berkesempatan datang ke konser seru-seruan mereka dan menyaksikan betapa lautan manusia yang hadir malam itu begitu terkoneksi dengan lagu-lagu mereka.

Meski bukan penggemar berat, saya tetap bisa menikmati persembahan tersebut karena hampir semua lagu mereka membuat saya berpikir. Bertanya-tanya kira-kira kondisi seperti apa yang membuat mereka menulis lagu-lagu tersebut. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh si musisi melalu lagu.

Lagu berjudul Di Udara, didedikasikan untuk Munir Said Thalib, seorang aktivis HAM.
Usut punya usut, lagu tersebut hampir diberi judul Ode untuk Munir. 
Lantas mengapa akhirnya diganti judulnya menjadi Di Udara, Mas Cholil punya penjelasan yang menurut saya sangat membumi. Menarik sekali bahwa di balik pemilihan judul saja, beliau mampu membuat saya ingin memproses lagu tersebut lebih jauh.

"...Jangan-jangan kalau kami beri judul “Ode Untuk Munir”, orang justru akan antipati terhadap kisah dari sosok Munir, karena hegemoni musik bukan tempat untuk berpolitik sudah terlalu kuat. Jadi akhirnya kami beri judul “Di Udara.” Judul yang lebih ambigu tersebut membuka kemungkinan bagi orang apolitis untuk mendengarkan lagunya juga. Dan mungkin setelah dia kena dengan lagunya, bisa jadi dia berpikir “kok liriknya begini ya? liriknya tentang apa ya?”

Kalau secara judul saja memancing penolakan, maka sepenting apapun misi lagu tersebut akan tidak berguna. Karena kami memiliki tujuan untuk membuat orang mengetahui kisah Munir, maka pesan kami tersebut harus bisa melewati berbagai medium..."

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

.
.
.

Ternyata jadi panjang juga ya introduksi dari tulisan ini. 
Yang ingin saya garis bawahi yaitu: bagi saya, good songs make you think, feel, and process the song further. Semangat ini yang membawa kita kembali pada judul dari tulisan ini : Menemukan Keseimbangan antara "I Love You Anyway" Dari Mocca dan "Jangan Cintai Aku Apa Adanya" Milik Tulus.

Mengapa keseimbangan ini kemudian menjadi hal yang penting, setidaknya bagi saya?
Lagu I Love You Anyway, pada hakikatnya menceritakan betapa si penulis lagu mampu mentolerir hal-hal menyebalkan dalam diri pasangannya dan tetap mencintai pasangannya tersebut.

now look at you// wearing that shirt again // don't you realize how ugly that thing is// but even so// I love you anyway// no matter how things have gone// you always have me

Kemampuan mentolerir kebiasaan-kebiasaan aneh pasangan menjadi sebuah konsep yang selalu diingatkan oleh Ibu saya. Mengutip pesan beliau, "Mama cinta kakak meskipun, bukan cinta kakak karena". Jadi kita tetap mencintai orang lain meskipun mungkin orang tersebut punya kebiasaan bangun siang, gampang marah, atau sering kentut sembarangan.
Kita tidak sekedar mencintai orang tersebut karena hal-hal yang baik saja, misalnya mau antar jemput, suka traktir sehabis gajian, dan seterusnya.

Pesan Ibu saya selalu menggema di pikiran saya, terutama ketika Mas pacar melakukan hal-hal konyol.  Selama hal-hal konyol tersebut tidak menyimpang dari ajaran agama atau bertentangan dengan hukum yang berlaku, saya harus bisa legowo dan menerima bahwa with the good comes the not so good. Toh Mas pacar juga tetap mencintai saya meskipun banyak hal-hal konyol yang saya lakukan setiap saat.

Lantas sampai sejauh apa kita boleh mentolerir hal-hal kurang baik dalam diri pasangan?

Menurut saya pertanyaan tersebut dijawab dengan rendah hati oleh Tulus dalam Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Dalam lagu tersebut sepertinya Tulus ingin menyampaikan bahwa menerima pasangan kita apa adanya itu wajib, tapi jangan sampai acceptance dari kita membuat pasangan terjebak dalam zona nyaman lalu tidak mau tumbuh dan berkembang.

kau terima semua kurangku// kau tak pernah marah bila ku salah// kau selalu memuji apapun hasil tanganku// yang tidak jarang payah// jangan cintai aku apa adanya// jangan// tuntutlah sesuatu// biar kita jalan ke depan

Pasti gerah kan dengan pasangan (atau mungkin teman, kolega, atau anggota keluarga) yang terus-terusan komplain dengan kekurangan kita. Mungkin kita terus-terusan berharap bahwa mereka akan bisa menerima kita apa adanya suatu hari nanti. Tapi percaya deh, kita juga tidak ingin berada di lingkungan yang terlalu menerima kita apa adanya, tanpa membuat kita merasa bahwa kita perlu berkembang. I have been there, and trust me it's not healthy either.

Lalu, apakah saya akan dapat mengakhiri tulisan ini dengan saran-saran untuk menemukan keseimbangan antara "I Love You Anyway" Dari Mocca dan "Jangan Cintai Aku Apa Adanya" Milik Tulus?

The answer is, unfortunately, no.
Sampai hari ini, keseimbangan tersebut masih menjadi sesuatu yang saya perjuangkan on daily basis. Bagaimana kita bisa menerima kekurangan seseorang, tanpa harus membuatnya terjebak dalam zona nyaman sehingga tidak ingin menjadi lebih baik.

I do, however, wish that this writing can make you think, feel, and process the idea further.

Comments

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

I Would Not Have Known