Vakansi Singkat ke Bogor

Sejak awal menjalin cinta (yasik), entah sudah berapa kali saya merengek ke Masyan minta jalan-jalan ke Bogor. Sudah tak terhitung pula berapa kali Masyan mengamini wacana jalan-jalan tersebut. Tapi ujung-ujungnya rutinitas kencan kami hanya berputar pada kunjungan dari mall yang satu ke mall yang lain dalam kota.

Sebenarnya tidak ada yang se-urgent itu juga yang harus disaksikan atau ditemui atau dicicipi di Bogor. Sepertinya saya hanya tergila gila with the idea of naik kereta jarak (agak) jauh untuk sekedar get lost in a somewhat familiar place.

Kenapa harus naik kereta? 
Karena selama ini kalau pergi sama Masyan selalu disetirin atau naik uber/taksi. Jadi moda transportasinya hanya roda dua atau roda empat saja. Gemes aja sih membayangkan kami bertingkah layaknya turis yang sedang tamasya naik kereta :p

Kenapa Bogor? 
Karena menurut saya Bogor bisa memenuhi elemen "a place to get lost in" sekaligus "a somewhat familiar place". Pada dasarnya saya bukan tipe orang yang rajin membuat itinerary untuk jalan-jalan sejak jauh hari, jadi inginnya get lost saja berjalan kemanapun angin menuntun. Tapi bukan berarti saya ingin asal-asalan get lost di tempat yang benar-benar random dan tidak ada apa-apa.
So to Bogor we go.

Setelah setahun lebih, akhirnya permintaan bertamasya ke Bogor tersebut kesampaian juga pada 15 April 2017 kemarin. Sebegitu unbelievable nya kah trip ke Bogor sampai dibuatkan sebuah posting di blog? Engga juga sih. Tapi ada banyak hikmah yang bisa saya ambil dari perjalanan singkat kemarin dan tidak ada salahnya juga kan ya untuk berbagi review-review lucu? Hehe.

Kami janjian untuk bertemu di Stasiun Tanah Abang pukul 10 pagi. Masyan berangkat dari Stasiun Rawa Buntu sementara saya berangkat dari kosan di Benhil. Kami menunggu sekitar 10 menit sampai kereta tujuan akhir Bogor datang. Kereta tersebut akhirnya datang dan meninggalkan Stasiun Tanah Abang sekitar pukul setengah 11. Belum ada 10 menit duduk di kereta, Masyan sudah berkali-kali menguap seperti bapak-bapak komplek yang semalaman ronda :o

Kebetulan saya juga baru tidur sekitar jam 1 pagi jadi masih lumayan ngantuk. Saya pikir kami akan bisa tidur-tidur ayam sepanjang perjalanan ke Bogor. Tapi tiba-tiba masuk gerombolan anak krucil yang kasian juga kalau disuruh berdiri di kereta. Akhirnya kami sebagai kakak-kakak baik, mengalah dan merelakan ‘tempat tidur’ kami untuk mereka duduki. Lumayan juga sih berdiri dari Tanah Abang sampai ke Universitas Indonesia. Alhamdulillah di Stasiun Depok banyak penumpang yang turun sehingga kami bisa duduk lagi untuk melanjutkan tidur-tidur ayam yang sempat tertunda tadi.

Kami sampai di Stasiun Bogor sekitar pukul 12.15 siang. Ramai luar biasa dan lumayan panas juga kondisinya. Beruntung akhirnya ada Uber driver yang mau pick up dan mengantar kami ke destinasi pertama hari itu.

Meskipun esensi perjalanan ini bagi saya adalah to get lost in a somewhat familiar place. Saya sempet browsing juga sih tempat-tempat apa saja yang sepertinya menarik untuk dikunjungi (baca: 5 dari 7 tempat yang saya catat adalah tempat makan. Jadi kebayang kan sebenarnya apa tujuan perjalanan ini :p)

Adalah Lemongrass, tempat makan pertama yang kami kunjungi hari itu. Seperti ekspektasi saya, pengunjungnya melimpah dan kami harus masuk waiting list sebelum bisa duduk. Saya pikir kami akan terjebak for another 30 minutes before we get seated. Ternyata, sekitar 15 menit setelah datang kami langsung diarahkan untuk duduk di area outdoor

Sebelumnya saya sempat baca review yang bilang kalau ada minimum order untuk bisa duduk di area outdoor, tapi mungkin sudah tidak diberlakukan lagi ya mengingat animo pengunjung yang membludak.

Ketika memilih menu, beberapa kali saya dan Masyan suudzon menebak tempat ini adalah one of those places yang interiornya Instagram-able banget tapi makanannya biasa aja. Saya akhirnya memesan Lemongrass Mango Salad dan Jus Kedondong, Masyan pesan Mie Hongkong Style Ayam Panggang dan Homemade Watermelon Lemonade. Terus kami pesan Siomay dan Kaki Ayam untuk dimakan berdua.



Tidak sampai 15 menit, makanan yang kami pesan mulai berdatangan. Secara visual dan aroma, makanan-makanan yang kami pesan cukup menggoda selera sih. Saya sampai ngga enak hati karena sempat underestimate kualitas makanannya.

Benar saja, semua yang kami pesan enak banget! Kecuali Lemongrass Mango Salad yang menurut saya terlalu banyak kuahnya dan kepedesan L Tapi yang lainnya enak-enak banget apalagi Kaki Ayamnya!!! Duh itu kayaknya ceker paling enak yang pernah saya makan seumur hidup. Gemes banget! Dari segi pelayanan, ambience dan kualitas makanan, Lemongrass is a 9 out of 10 for me.

Picture is courtesy of  Segala Makan

Jam setengah 2 kami sudah selesai makan tapi masih duduk-duduk manja di kursi kami. Se-cozy itu tempatnya sampai bikin kami berasa malas untuk beranjak. Tapi sebelum diusir oleh mba dan mas di Lemongrass, kami sepakat untuk pesan Uber untuk menuju destinasi selanjutnya!

Setelah lumayan bermacet ria di tengah kota Bogor, kami sampai juga di destinasi kedua yaitu Kebun Raya Bogor. Sooooooo very mainstream I knoowwww, please don't judge us! Tadinya kami sempat sok ide ingin cari-cari museum atau tempat lain untuk dikunjungi. Tapi akibat kekenyangan yang cukup hakiki akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki santai di bawah rindang pepohonan Kebun Raya Bogor. Tiket masuknya cukup empat belas ribu Rupiah untuk satu orang wisatawan lokal. Ketika sudah masuk ke dalam, sepertinya sebagian besar museum di dalamnya sudah hampir tutup sehingga satu-satunya pilihan yang tersedia bagi kami hanya sekedar duduk santai di rumput sambil memandangi Istana Negara.

But that only option was apparently worth every penny! Setelah menemukan spot rumput yang ideal (baca: tidak terlalu kotor dan tidak terlalu ramai) kami pun langsung gegoleran sambil menyatu dengan alam hehe. Dari situ saya belajar bahwa: ketika lima hari dalam seminggu sudah dihabiskan di tengah hiruk pikuk ibukota, sekedar rebahan di rumput while doing nothing can actually be very relaxing and fun!


Kebun Raya Bogor tutup pukul 4 sore. Sekitar lima belas menit menuju jam tutup tersebut, langit mulai mendung dan saya pikir sudah waktunya untuk bergegas menuju destinasi selanjutnya. Masyan masih asik gegoleran di rumput ketika saya mulai membereskan barang ke dalam tas. Ternyata yang bersangkutan ngga ngeh kalau langit sudah mendung berat karena daritadi pakai kacamata hitam -_-

Sambil menuju pintu keluar, kami sempatkan untuk mengabadikan momen kunjungan ke Kebun Raya Bogor. Urusan mengabadikan momen ini lumayan sulit untuk kami yang kemana-mana seringnya cuma berdua. Solusi yang biasa kami tempuh yaitu menunggu sampai ada sepasang kekasih atau rombongan keluarga yang sepertinya ingin berfoto juga tapi bingung harus minta tolong siapa. Ketika itu maka Masyan akan dengan sigap menawarkan bantuan dengan iming-iming gantian difotoin :p


Ketika berjalan keluar Kebun Raya Bogor, hujan menjadi semakin deras dan kami belum memutuskan kemana kaki akan melangkah selanjutnya. Alhamdulillah di seberang Kebun Raya Bogor ada deretan toko yang bisa dipakai berteduh sambil berpikir menentukan pilihan. Hari masih sore dan sepertinya it was too early for dinner. Masyan kemudian mencetuskan keinginan untuk ngopi dan saya mengamini. Setelah menemukan tempat ngopi yang sepertinya asik dan tidak terlalu jauh dari Kebun Raya Bogor, timbul masalah baru karena kami tidak tahu bagaimana cara ke tempat tersebut!.

Berkali-kali order Uber, tapi ada saja penghalangnya. Drivernya kebablasan lah, terlalu jauh, dan lain sebagainya. Sempet heran juga sih kenapa seharian itu kami ngga bertemu supir taksi. Ternyata katanya taksi-taksi di Bogor itu hanya mangkal di tempat tertentu saja ya. Hujan masih tetap deras dan spot berteduh kami makin ramai oleh manusia-manusia lain yang kehujanan. Bermodal nekat dan tanya-tanya akhirnya kami memutuskan naik angkot.

Sekitar lima belas menit naik angkot, kami berhasil menemukan tempat ngopi yang direkomendasikan oleh Google. Namanya Maraca Books and Coffee. Sesuai namanya, tempat tersebut menyediakan berbagai pilihan kopi dan dua rak besar yang berisi buku-buku. Tapi untuk yang ngga suka ngopi, banyak pilihan minuman non coffeenya kok!


Masyan pesan Arabica Aceh Gayo dan Pisang Goreng, sedangkan saya pesan Wedang Uwuh dan Singkong Goreng. Entah karena faktor lapar, faktor rasa, atau karena makanannya datang lebih dulu, ujung-ujungnya saya jadi menghabiskan Pisang Goreng Masyan. Pisangnya manis dan digoreng pakai tepung yang teksturnya kayak pasir gitu. Singkongnya malah biasa aja karena menurut saya polos banget kurang ada rasanya hehe. Overall, Maraca buat saya is a 7,5 out of 10.

Setelah asyik berteduh sambil ngopi dan baca-baca, kami mulai mendiskusikan kemana harus mencari makan malam. Saya sempat dapat rekomendasi untuk makan Daiji Ramen. Kebetulan Masyan kan memang pecinta mie dan akhir-akhir ini selalu minta makan ramen setiap kami makan di luar, to which I almost always say no karena saya kurang suka makan ramen. 

Tapi at some point saya kemudian mengusulkan untuk makan di Kedai Kita. Seorang sahabat merekomendasikan tempat tersebut terutama berbagai jenis makanan yang disajikan di hot platenya. Lalu entah kenapa Masyan si manusia ramen malah setuju untuk makan malam di Kedai Kita sebelum pulang ke Jakarta.

Jarak dari Maraca ke Kedai Kita ternyata tidak terlalu jauh. Kami pun memutuskan untuk jalan kaki saja ke Kedai Kita. Seneng sih karena sepertinya hampir ngga pernah jalan kaki bareng untuk menuju ke suatu tempat makan :p

Sampai di Kedai Kita, sudah lumayan ramai tapi untungnya kami bisa langsung duduk dan order makanan. Specialty tempat tersebut bisa dibilang pizza dan aneka makanan yang disajikan di atas hot plate. Lumayan campur aduk sih varian makanannya tanpa ada suatu benang merah tertentu. Kami akhirnya pesan Beef Pepperoni Pizza dan Mie Ceker Saus Padang untuk dimakan berdua.

Proses pembuatan makanannya cukup cepat. Tidak sampai 20 menit makanan kami sudah datang dan mungkin hanya butuh waktu 15 menit untuk menghabiskannya. Saya sendiri lebih suka pizza modifikasi a la Pizza Hut yang rotinya tebal daripada pizza kayu bakar yang tipis crispy sebagaimana seharusnya. Dulu jaman kuliah sempat beberapa kali makan pizza kayu bakar di Nanamia. Tapi tetep ngga doyan karena menurut saya pizzanya tipis dan terlalu crispy. 

To my surprise, ternyata pizza di Kedai Kita enak! Pinggirannya crispy tapi tengahnya lumayan tebel dan lembut banget. So it was way beyond my expectation. Mie Ceker Saus Padangnya? Ngga usah ditanya deh, Masyan doyan banget sampai merem melek makannya! Saya udah berdoa aja semoga Mas masih inget kalau saya juga ada di situ dan pengen makan mienya juga. Sepertinya mie ceker tersebut cukup menjadi penutup yang menyenangkan buat Masyan. Saya sih ngga doyan-doyan banget, cuma ikut seneng kalau si dia seneng. Dari segi ambience, it's a 4 out of 10. Tapi soal makanan dan pelayanan, it's an 8 out of 10 for me.

Kurang lebih pukul setengah 8, Uber driver kami datang dan mengantar kami ke Stasiun Bogor. Kereta kami ke Jakarta berangkat pukul 8 lewat 5 menit, Sepanjang perjalanan pulang sepertinya kami cuma ngobrol sebentar dan sisanya langsung tidur.

Secara garis besar, seneng banget! Lumayan sedih sih karena ini sudah tengah bulan (baca: kantong menipis) tapi jajannya lumayan banyak hari itu. But I think it's fun and eye opening to travel with your partner karena kita jadi tahu how they operate ketika berada di lingkungan yang baru dan bisa jadi asing. 

Buat Masyan, mungkin sedikit melelahkan sekaligus melatih kesabaran karena saya jadi (semakin) bawel kalau capek, pusing, lapar, kepanasan, dsb. 

Bagi saya sendiri, setiap tempat yang kami kunjungi hari itu melebihi semua ekspektasi saya. Hari itu saya betul-betul memahami makna "expectations kill". Jadi ya sudah dalam hidup tuh ya lakukan porsi masing-masing dan ngga perlu terlalu banyak membangun ekspektasi. Let life surprise you every now and then!

Banyak momen menyenangkan yang terjadi di hari Sabtu kemarin. Tapi salah satu yang paling menyentuh hati justru terjadi dalam perjalanan kami ke Bogor. Masyan menawarkan untuk berbagi headset sambil mendengar playlist lagu di Spotifynya. Setelah beberapa menit saya malah jadi pusing karena cuma mendengar suara di satu telinga. Ketika saya kembalikan headsetnya ke Mas, dia malah menggulung headsetnya dan memasukannya ke dalam tas. 

"Loh kok ngga dengerin lagu lagi?" Tanya saya. To which he surprisingly replied :
"Musik ngga boleh egois, kalau sendiri ya sendiri, kalau berdua ya berdua." 

BAHAHAHAHAHAHAHAH.
Ya begitulah bentuk-bentuk romantisme Masyan yang memang tidak romantis. Kecil, tidak terduga, namun mengena. Semoga perjalanan kita selanjutnya semakin menyenangkan ya Mas! Here's to a lot more adventures to come!!! :))


Comments

Popular posts from this blog

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018

When You Know, You Know

Self Publishing More, Self Editing Later (As You Go On)