Naik Kopaja and Being That One Person I Always Want to Be

Pada masa dimana arus informasi datang dari dan menuju segala arah, sungguh mudah bagi kita untuk menjadi sibuk, kecil dan bingung.

Sibuk mengamati pencapaian teman-teman atau tokoh-tokoh yang usianya tidak jauh berbeda. Berjuta-juta kali membatin betapa siapa sudah menjadi apa. Kemudian merasa kecil. Padahal dua puluh empat jam yang kita punya sama. Mengapa sebagian dari kita seolah bisa melipatgandakan jumlah menit dalam satu hari dan meraih hal-hal yang lebih berarti? Ditutup dengan kebingungan yang seolah berulang tiada henti. Am I wasting my time? Am I not living life to the fullest? Pertanyaan-pertanyaan datang silih berganti dan sebagian besar mengendap tanpa terjawab.

This is not the person I want to be.
____________________________

Picture is courtesy of MamiKos
Tidak seperti saya yang gemar naik Kopaja, kebanyakan orang mungkin lebih memilih naik ojek atau Transjakarta untuk menempuh jarak dekat. Kantor saya yang ada di Sudirman dan Kosan saya yang ada di Bendungan Hilir, bisa ditempuh dengan berjalan kaki ke halte busway sekitar sepuluh menit, lalu singgah di dua halte lain sebelum akhirnya berjalan kaki ke arah Kosan. Cukup 3.500 Rupiah terpotong dari uang elektronik dan saya bisa nikmati perjalanan pulang full AC pada jalur khusus yang jarang macet. Tidak suka berjalan kaki? Ada ojek online yang siap menjemput di depan gedung kantor dan dengan siaga mengantar sampai ke depan pintu kosan. Tidak lebih dari 6.000 Rupiah yang perlu saya keluarkan untuk menempuh opsi kedua.

Lalu kenapa naik Kopaja masih punya eksotisme yang sulit untuk saya tolak?
Bukan sekali dua kali saya melihat aksi pencopetan di dalam Kopaja. 
Bukan sekali dua kali saya tidak dapat kursi sehingga harus berdesakan dengan pekerja lain yang tidak sabar pulang ke rumah. 
Yang pasti lebih dari sekali saya hampir jatuh karena supir Kopaja tidak benar-benar menghentikan laju kendaraan ketika saya akan turun.

And yet I still gravitate towards choosing Kopaja over and over again.

Ternyata dengan naik Kopaja, saya bisa menjadi salah satu versi diri yang paling saya sukai.
Versi yang mawas diri dan selalu sadar dengan lingkungan sekitar.
Versi yang rendah hati dan selalu mensyukuri apa dan siapa saya hari itu.

Justru dengan naik Kopaja yang sering jadi tempat para copet beraksi membuat saya selalu 'hadir' dalam masa kini dan berhati-hati; agar tidak menjadi sasaran empuk mereka yang membutuhkan namun memilih jalan singkat untuk memenuhi kebutuhannya.
Naik Kopaja mengingatkan saya untuk bersyukur karena masih diberi pekerjaan yang Insya Allah halal dan tidak perlu merugikan orang lain. Tidak pula meng-ekspose diri terhadap risiko berurusan dengan polisi atau dihakimi massa.
Naik Kopaja membuat saya sadar bahwa mungkin saya tidak punya segalanya, tapi apa yang saya punya saat ini jauh lebih banyak dari sebagian besar orang lain di luar sana.
Naik Kopaja membantu saya untuk mengerti bahwa uang memang diperlukan dalam banyak lini kehidupan, but it's not the thing that matters the most.

Naik Kopaja pada akhirnya mengingatkan dan mendekatkan saya pada Dia Yang Maha Segalanya. Betapa besarnya Tuhan dan betapa kecilnya saya. 

Jika Tuhan mau (dan tentu saja Tuhan bisa), kapanpun saya bisa jadi korban pencopetan atau terpeleset saat akan turun dari Kopaja.
Jika Tuhan mau (dan tentu saja Tuhan bisa), saya bisa saja terlahir dalam keadaan yang lebih sulit secara fisik (misalnya tidak bisa melihat atau dengan bagian tubuh yang tidak lengkap) maupun secara materi (misalnya menjadi bagian dari keluarga yang tidak hidup dari gaji setiap bulan, melainkan pendapatan ngamen setiap hari).

He could have easily put me in any of those unfortunate situations and yet He did not.
Tuhan melindungi dan menyayangi saya setiap hari sejak saya lahir dan Insya Allah sampai saya kembali kepadaNya suatu hari nanti.

Membayangkan ini saya sungguh malu, betapa sering saya menjadi versi diri yang tidak saya sukai.
Versi diri yang sibuk dan bingung terhadap hal-hal yang kurang berarti.
Versi diri yang sering lupa, membanding-bandingkan, dan merasa tidak berkecukupan.

Ternyata dengan naik Kopaja, saya bisa menjadi salah satu versi diri yang paling saya sukai.
Versi yang mawas diri dan selalu sadar dengan lingkungan sekitar.
Versi yang rendah hati dan selalu mensyukuri apa dan siapa saya hari itu.

And that, is that one person I always want to be.

Comments

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018