Miskonsepsi Tentang Bankir

Kalau dihitung-hitung, sudah hampir dua tahun berlalu sejak saya menamatkan pendidikan di kampus kerakyatan. Yang berarti juga sudah hampir dua tahun saya resmi bergabung dengan salah satu bank pelat merah di negeri ini.

Suka dukanya?
Banyak.

Yang paling saya suka, bank bisa jadi miniatur kehidupan buat saya.
Semua orang yang saya temui dan kejadian yang saya alami sungguh-sungguh membuka mata dan pikiran saya tentang kehidupan manusia dewasa. Ini mungkin subjektif saya saja ya. Saya yakin tempat lain juga bisa jadi eye-opener untuk para fresh graduates.

Tapi buat saya pribadi, belum tentu bisa merasa terbuka mata dan pikirannya kalau tidak kerja di bank. Bener deh, semua jenis orang ada di bank.

Dari segi latar belakang budaya, saya berteman dengan orang Batak, orang Jawa, orang Sunda, orang Betawi, orang Makassar, orang Papua, pokoknya semua orang Indonesia. Kalau saya tidak bekerja di sebuah bank yang punya jaringan distribusi hampir di seluruh kota di Indonesia, belum tentu pertemanan saya sekaya ini.

Dari segi latar belakang pendidikan pun beragam sekali. Teman angkatan saya masuk bank ada yang dulunya mahasiswa teknik elektro, teknik perminyakan dan teknologi pangan. Kalau saya dulu diterima kerja di law firm, pasti teman-teman saya sarjana hukum semua #yaiyalah.

You get the picture. bank is where you meet all kinds of people.

Dukanya?
Jam kerjanya relatif pagi, which I don't really mind karena sebenarnya saya berfungsi lebih baik di pagi hari ketimbang malam hari. Cuma kadang miris aja ketika papasan sama orang-orang kantoran yang masih sempet jogging dulu atau sarapan dengan santai atau nonton saluran berita di pagi hari sementara saya sudah tiba di kantor dan memulai hari pukul setengah 8 pagi.

And there is no escaping from Monday to Friday. 
Dulu saat kuliah, paling cuma sehari dua hari ada kelas jam 7 pagi. Sisanya mungkin dimulai jam 9, 11, 1, 3, atau bahkan kosong sama sekali. Dengan menjadi bankir, it feels like you take 7-am-classes everyday from Monday to Friday for as long as you can endure :p

Selain itu, ada beberapa duka lain yang saya rasakan sebagai seorang bankir.
Sebenarnya kedukaan bukan istilah yang tepat sih, karena hal-hal yang ingin saya ceritakan ini ngga bikin saya sedih-sedih banget juga. Justru malah bikin saya ketawa gemas sambil geleng-geleng kepala.

Miskonsepsi mungkin ya?
I feel tad bit misunderstood sometimes, when I tell people or when people know that I work in a bank.

Miskonsepsi tentang Bankir #1
That we all have economics degree or came from an economic-related major.
More often than not, orang berujar kepada saya "Kuliah di fakultas hukum kok kerjanya di Bank? Percuma dong belajar hukum..."

Saya cuma bisa senyum miris saja sih kalau dikomenin seperti ini. 
Sudah era globalisasi seperti sekarang, kok masih punya pikiran yang segmented seperti ini sih? Memang di rumah sakit itu isinya lulusan fakultas kedokteran semua? Hehe

Saya melamar kerja di bank dengan sadar dan tanpa keterpaksaan kok. Saya mengerti kalau senyambung apapun jurusan kuliah kita dengan bidang pekerjaan nantinya, pasti tetap butuh waktu untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan pekerjaan sehari-hari.
Jadi tidak ada yang aneh, apalagi percuma.

Miskonsepsi tentang Bankir #2
That we are all generally and effortlessly good with numbers.
Ini lucu sih.
Banyak orang yang mengira saya pandai hitung-hitungan atau super paham soal perencanaan keuangan karena saya bekerja di bank. Buat saya sih hal-hal tersebut masih jadi pembelajaran setiap harinya. Jadi ya mohon maaf kalau saya masih banyak salah dan kurangnya.

Kadang, menghitung kembalian dari tukang bakso aja saya keliru kok :p

Miskonsepsi tentang Bankir #3
That we understand all the banking products.
Ini juga tidak kalah lucu hehe.
Produk perbankan itu sungguh ada banyak sekali dan mungkin butuh bertahun-tahun kerja di bank untuk paham semua fitur produk dari setiap segmennya (di bank biasanya ada segmen-segmen nasabah yang dikategorikan berdasarkan wallet sizenya, mulai yang paling kecil di level consumer, SME, commercial, sampai corporate).

Meskipun demikian, tidak jarang saya menjadi sasaran pertanyaan-pertanyaan seperti ini :
"Fiesta poin tuh bisa di-redeem di merchant apa aja sih?"
"Rate JPY hari ini berapa ya?"
"Naikin limit CC gimana caranya?"
"Kartu gue ketelen nih terus harus apa dong?"
"Kantor gue mau payroll di tempat lo dong, harus hubungin siapa?"

Atau pertanyaan-pertanyaan serupa seolah-olah saya ini petugas call center yang bisa menjawab semua pertanyaan anda :p

Don't get me wrong, saya selalu senang setiap ada yang bertanya seperti ini ke saya.
It's good to know that a lot of people trust you with their money. 
After all, semua bank menawarkan produk yang hampir serupa bukan?
Yang berbeda hanya service dan pricing nya saja.
So it's a good feeling to learn that people are comfortable with your product and choose you over the competitors.

Tapi tak bisa dipungkiri ada debar-debar manja setiap ada yang nyeletuk : 
"Eh lo kerja di bank kan? Pas banget nih gue mau tanya..."

Langsung deh saya berdoa dalam hati supaya bisa menjawab pertanyaan tersebut, atau punya kenalan di unit kerja lain yang bisa membantu masalah nasabah tersebut. Saya memang cuma satu dari sekian ribu pegawai bank tempat saya bekerja. Tapi bagi sebagian kenalan saya, I might be the only person they know who work there.

Bagi orang-orang tersebut, citra baik Bank Mandiri is up to me. Whether I can live up to our claim or to screw up the image.

Misalnya Mba Endang penjaga kosan saya. Bisa jadi saya adalah satu-satunya karyawan Bank Mandiri yang beliau kenal. Kalau saya asal-asalan dalam menjawab pertanyaannya seputar produk perbankan, bukan tidak mungkin dia bete dan mencap semua pegawai Bank Mandiri tidak kompeten.
A pretty heavy burden, eh?

Miskonsepsi tentang Bankir #4
That we are the bad guys.
Ini termasuk yang paling sering saya temui dan jujur masih sulit untuk tidak terbawa perasaan ketika ada yang punya opini seperti ini.
Saya yang notabene seorang muslim, tidak jarang dicemberutin karena bekerja di sebuah bank. 
Udah bank, konvensional lagi.
Duilah berlipat ganda deh tuh dosanya.

Jujur untuk poin yang ini saya masih mencari tahu dan tidak mau asal klaim bahwa saya yang paling benar. But here's the way I see it : dengan izin Allah, bekerja di bank bisa tetap membawa berkah.

Kenapa?
Saya tidak akan pernah lupa perkataan guru agama saya di SMA dulu.
Orangnya kurus kecil, selalu pakai peci, suaranya terlalu merdu saat mengaji, Insya Allah pemahaman agamanya sudah mumpuni.
Saya pikir beliau akan jadi salah satu orang yang anti terhadap industri perbankan.
Boy was I wrong.

Sampai detik ini saya selalu ingat pesan beliau untuk menabung di bank.
"Jangan nabung di bawah bantal, selain berbahaya kamu juga egois. Karena uangnya cuma bisa kasih manfaat ke kamu. Coba kalau disimpan di bank. Selain aman kan Insya Allah bawa manfaat untuk orang banyak. Karena bisa diputar untuk modal usaha atau modal lain dalam kehidupan."

Kurang lebih begitu pesan guru agama saya.

Kalau pemahaman saya pribadi sih begini. Mohon koreksi jika kurang tepat.

Andaikata para tengkulak dan rentenir di film-film itu meminjamkan uang satu juta kepada petani atau nelayan, lalu meminta mereka mengembalikan lima kali lipat dari uang tersebut bulan depan, just because they want to and they can... itu tega namanya.

Tapi kalau beban dan risiko yang harus ditanggung oleh bank ketika menyalurkan pinjaman tidak ditanggung bersama dengan debitur dalam bentuk bunga... itu sulit namanya.

Yuk bayangin.
Secara simpel, salah satu sumber pemasukan bank itu dari nasabah-nasabah yang menyimpan uangnya antara lain dalam bentuk tabungan, giro dan deposito. Uang-uang dalam produk tabungan atau giro ituuu bisa setiap hari diambil oleh nasabah yang menyimpannya. Deposito yang jangka waktunya paling lama pun bisa diambil dalam waktu 12 bulan oleh nasabah yang membukanya. Gampangnya, bank bisa kehilangan sumber dananya at any given time.

Padahal kalau bank menyalurkan kredit itu kan tenornya panjang semua. 
Pernah denger orang pinjam kpr ke bank untuk tenor dua bulan? Ngga mungkin kan ya. 
Pasti pinjam uangnya untuk waktu yang cukup lama misalnya 5 tahun atau 10 tahun. 

Itu baru dari segmen konsumen yang limit kreditnya 'kecil-kecil'.
Bagaimana dengan korporasi yang punya fasilitas kredit modal kerja triliunan Rupiah?
Kamu pikir uangnya akan dikembalikan dalam sehari dua hari?

Jadi sumber dananya bank itu vulnerable (karena bisa ditarik oleh pemilik uangnya kapan saja) sementara risiko yang ditanggung oleh bank ketika menyalurkan kredit akan terus ada sampai kreditnya lunas.

Kalau ngga boleh pakai bunga, duitnya siapa yang mau disalurin?

Miskonsepsi tentang Bankir #5
That we all have access to people's accounts and their money.
Kadang beberapa teman suka bercanda dan mengira saya tahu ada berapa uang di rekening yang terhormat Bapak Presiden atau para jajarannya, tahu limit kartu kredit para artis ibukota, atau angsuran rumah si A dan si B setiap bulannya.

Woahh tidak semua pegawai bank punya akses to that kind of information! Kalaupun saya punya aksesnya, saya janji tidak akan menggunakan akses tersebut untuk memenuhi hasrat ingin tahu saya. Daripada sedih sendiri kan memantau isi kantong orang? :p


Kira-kira itu kelucuan yang bisa saya himpun selama hampir dua tahun ini.
Any bankers out there who have experienced the same? :p


Disclaimer : Tulisan ini saya buat atas nama pribadi dan tidak mewakili perusahaan tempat saya bekerja.

Comments

Popular posts from this blog

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018

When You Know, You Know

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live