Seni Merasa Cukup

If you know me well enough, you must know by now that I am a huge admirer of Tulus.

Iya.
Tulus yang penyanyi itu. 
Tulus yang orang Padang itu.
Tulus yang tembem-tembem gemes itu.

Nah, suatu hari saya pernah membaca interview dengan Tulus di sebuah majalah yang membahas mengenai album terbarunya. Dalam interview tersebut, Tulus menyinggung sebuah konsep bernama Seni Merasa Cukup.

Berikut cuplikan interviewnya :
"Seni merasa cukup di sini bukan berarti saya berhenti hidup. Dalam berkarya, seni merasa cukup bukan berarti lantas saya berhenti berkarya. Misalnya, ketika saya menciptakan sebuah lagu, saya harus tahu cukupnya di mana, sehingga lagu tersebut dapat saya nyatakan selesai dan bisa dirilis. Kalau saya tidak tahu kapan harus berhenti, tentunya mustahil bagi saya untuk merilis album atau lagu-lagu tersebut, yang kemudian saya sebut sebagai 'Sindrom 99,99%'. Padahal mungkin sebenarnya 70% atau 80% itu sudah cukup. Tidak perlu harus 100%."

Kisah lengkapnya sila baca di sini :

Intinya, baik Tulus sebagai seorang musisi ataupun kita sebagai apapun peran kita di dunia ini, perlu tahu kapan cukup adalah cukup, in order to move on with our life.

Seperti namanya, Seni Merasa Cukup adalah tentang keindahan dan kemampuan untuk merasa cukup.
Dengan apapun yang kita punya sekarang, dengan siapapun dan dimanapun kita berada sekarang.
Seperti namanya, seni berarti punya ukuran yang tidak pasti dan belum tentu semua bisa ngerti.

Contohnya?
Pasti pernah kenal lah ya sama satu atau dua orang yang saking semangatnya selalu pulang paling belakangan di kantor. Atau yang ketika kumpul bareng teman-teman pikirannya masih nyangkut di kerjaan.

Saya bukannya mau bilang bahwa orang-orang semacam itu tidak tahu kapan cukup adalah cukup.
Tapi orang-orang tersebut mungkin butuh extreme measure untuk akhirnya sadar bahwa yang mereka bisa kerjakan saat ini sudah cukup.

Misalnya, kalau orang normal merasa kerja dari jam 9 sampai jam 5 itu sudah cukup, orang-orang ekstra semangat ini mungkin baru akan merasa cukup kalau sudah ditegur pengelola gedung karena kelamaan lembur.

Beberapa hari ini, Seni Merasa Cukup menjadi highlight penting dalam hari-hari saya.

Pada masa dimana arus informasi begitu deras, kita kadang kesulitan menyaring informasi mana saja yang masuk ke 'kolam' kita.
Bayangkan kalau tiap weekend melihat postingan teman seumuran yang lamaran, menikah, punya anak, dst.
Bikin pengen ngga sih?

Pasti.
Bohong kalau saya bilang tidak punya target untuk bisa ini di umur segini atau bisa itu di umur segitu.
Tapi setelah saya pikir lagi, kalau ada teman seumuran yang sudah merasa cukup untuk melamar, menikah, punya anak, dst, ya very good for them
Kita semua punya pace dan indikator yang berbeda terkait kapan kita merasa cukup kan?
Kebetulan Annisa yang hari ini masih merasa cukup dengan pergi ke bioskop atau nonton konser dengan Mas Pacar.

Tidak jarang juga kan lihat teman seumuran yang sukses jadi entrepreneur, merintis start up sendiri, atau mempertahankan idealisme dengan kerja di NGO?
Kalau saya tidak pandai-pandai merasa cukup, setiap hari mungkin saya merasa kecil hati karena hanya menjalani hidup sebagai karyawan biasa di sebuah bank yang punya spirit memakmurkan negeri.
Alhamdulillah Annisa yang hari ini masih merasa cukup dengan kehidupan kerja jam 8 sampai jam 5 dan terima gaji setiap tanggal 25.

Seni Merasa Cukup, menurut pemahaman agama saya yang masih sederhana ini, merupakan perpaduan antara konsep syukur dan tawakal.

Mengapa orang kadang merasa tidak mendapat sesuatu apapun dari Tuhan? Jawabannya mungkin karena dia belum bisa mensyukuri apa yang ada pada dirinya.

Barang siapa yang bersyukur atas nikmatku, niscaya aku akan menambah nikmat itu. Akan tetapi barang siapa yang kufur atas nikmatku, maka azabku sangatlah pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7)

Sedangkan konsep tawakal dalam agama saya diartikan sebagai bentuk penyerahan diri.
Berusaha sekuat tenaga, lalu berserah diri dengan kesadaran bahwa tidak ada daya dan upaya selain yang bersumber dari Tuhan.

Selama ini tawakal banyak disalahartikan sebagai pasrah yang pasif saja alias nerima.
Kok abis resign ngga nyari kerja lagi sih?
Kok abis putus ngga nyari pacar baru sih?

Orang-orang yang salah kaprah mungkin hanya akan menjawab, "Rejeki atau jodoh ngga akan kemana-mana..."
Padahal saya yakin Tuhan tidak menciptakan kita untuk duduk-duduk seharian menunggu rejeki atau jodoh datang ke pelukan.

Begitulah.
Menurut saya konsep syukur dan tawakal ini jika digabung kurang lebih punya makna seperti Seni Merasa Cukup seperti yang dibilang Tulus dalam interviewnya. Mampu merasa cukup dengan yang dimiliki saat ini, tapi tidak berarti berhenti untuk menjadi lebih baik setiap hari.

Bagi saya, Seni Merasa Cukup salah satunya adalah dengan merasa bahagia meskipun tidur malam masih sendiri, tapi tidak berhenti berdoa dan berusaha agar dipantaskan menjadi seorang istri sekaligus ibu suatu hari nanti.

Bagi saya, Seni Merasa Cukup salah satunya adalah dengan merasa bahagia kerja kantoran seminggu lima hari, tapi tidak berhenti berdoa dan berusaha agar bisa dibayar untuk mewujudkan mimpi pribadi.

Insya Allah.

Comments

Popular posts from this blog

When You Know, You Know

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

I Would Not Have Known