Belajar Mengajar

Ternyata sudah setahun lebih ya saya kembali ke Jakarta?
Sudah genap 12 kali menerima gaji, 12 kali membayar iuran kos, dan bolak balik belasan kali menempuh jarak Jakarta Jogja pada Jumat malam, untuk kemudian mengarungi jarak Jogja Jakarta pada Minggu malamnya.

Sudah genap 12 bulan juga saya menjadi bagian dari Yayasan Pemimpin Anak Bangsa.

Yayasan Pemimpin Anak Bangsa itu apa sih, you might ask.
Pada dasarnya tempat tersebut menyediakan platform untuk teman-teman yang ingin mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian kesetaraan. 

Bedanya YPAB dengan pusat kegiatan belajar masyarakat lain apa sih, you might also ask.
Bisa jadi Andri Rizki Putra adalah salah satu perbedaannya.

Andri Rizki Putra, or Kiki as we know him, adalah seorang panutan.
Banyak orang tidak peduli dengan cara yang harus ditempuh untuk mendapat nilai ujian terbaik, sebagian orang yang concern untuk menempuh cara-cara yang jujur pun kadang tidak berani berbuat apa-apa ketika ada praktik kecurangan di sekitarnya.

Tapi Kiki tanpa pikir dua kali berani bilang tidak pada ketidakjujuran di lingkungan sekolahnya dulu. Kiki kemudian mendirikan YPAB dan memberi kabar pada seisi negara ini bahwa ada yang jauh lebih penting daripada sekedar lulus ujian; moral dan integritas.

Saya yakin ada banyak sekali yang merasa bersyukur bisa dipertemukan dengan Kiki dan/atau YPAB.
Murid-murid yang bisa belajar dan mengikuti ujian kesetaraan tanpa pusing soal biaya.
Tutor-tutor yang bisa lari dari kesibukan korporasi lima hari seminggu dan memaknai hidup
Tidak terkecuali saya yang selalu looking forward untuk datang dan mengikuti kegiatan belajar mengajar setiap akhir pekan.

Malam ini, sehabis memeriksa soal ujian murid-murid sore tadi, saya teringat guru-guru saya di sekolah dasar dulu. Malam ini saya kok baru sadar ya betapa berat sekaligus mulianya tugas mereka.

Bayangkan, guru-guru di sekolah dasar biasanya paling multi-tasking, karena harus bisa mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus. Audiencenya juga paling berat, karena selain pengetahuan si murid masih sedikit, mereka juga tidak segan merengek minta pulang jika sudah bosan.

Tidak habis pikir betapa guru-guru saya dulu, terutama di sekolah dasar, make teaching looks like a piece of cake.

Setelah setahun saya belajar untuk membantu teman-teman di YPAB memahami grammar, tenses, dan lain-lainnya, baru malam ini saya benar-benar merasa rewarded as a teacher. Senang sekali rasanya memeriksa 20 soal ujian dan menemukan beberapa murid yang bisa menjawab lebih dari 10 soal dengan benar. 

PR saya masih banyak.
Masih ada sebagian murid yang berjuang membedakan apa itu noun dan apa itu verb.
Mudah-mudahan akan terus ada kesempatan bagi saya untuk menemani mereka sampai mereka bisa.

Untuk teman-teman yang tertarik berpartisipasi di YPAB, please kindly go to this link ya :) 



Comments

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018