Meminta

minta/min·ta/ v berkata-kata supaya diberi atau mendapat sesuatu; mohon

Pernahkah kamu menghitung, ada berapa permintaan yang kamu buat dalam satu hari?Kalau saya sih belum pernah. Tapi kalau harus dihitung tentu banyaknya tidak karuan. Permintaan saya yang paling pagi biasanya dialamatkan kepada yang Maha Esa. Doa-doa sederhana yang dipanjatkan dalam keadaan agak ngantuk supaya hari itu berjalan dengan lancar dan membawa kebaikan untuk saya dan orang-orang yang saya kasihi. Permintaan selanjutnya biasanya untuk ibu saya. Supaya beliau pergi ke dapur dan membuat sesuatu yang mengenyangkan dan menyenangkan perut saya paling tidak sampai jam 12 nanti. Selanjutnya kepada Ayah saya. Supaya bangun dengan semangat 45 untuk pergi ke kantor dan mencari penghidupan untuk kehidupan kami. Mungkin dua permintaan yang disebut belakangan tidak secara eksplisit saya katakan kepada Ibu dan Ayah. Tapi toh mereka dengan ikhlas melakukan hal tersebut untuk saya juga.

Waktu bahkan belum menunjukkan pukul 6 pagi tapi sudah lebih dari 1 permintaan-atau harapan diam-diam- yang saya ajukan. Semakin banyak tempat yang saya singgahi dan semakin banyak orang yang saya temui dalam satu hari berbanding lurus dengan jumlah permintaan yang akan saya buat pada hari itu. Tentu ada permintaan yang baru bisa terpenuhi ketika saya siap untuk memberi kontraprestasi. Misalnya teman akan setuju untuk menemani saya makan asalkan saya mau setuju pada tempat makan yang ia tentukan. Negosiasi. 

Hidup memang soal memberi dan menerima bukan? Yang muara asalnya adalah kebutuhan dari seorang manusia yang lantas meminta. Tapi tentu ada beberapa hal dalam hidup yang kita dapatkan cuma-cuma. Misalnya matahari, udara, atau kasih sayang orang tua. Above all of those, the more important subject is not the free stuff we get on daily basis. But the fact that someone is willing to give them all to us for free.

Kebetulan saya dilahirkan di keluarga yang menganut agama Islam sehingga sejak kecil saya selalu berdoa kepada Allah. Tapi semoga tulisan ini pada akhirnya bisa dipahami oleh penganut semua agama, atau mereka yang memilih percaya pada kekuatan lain selain agama. 

Berdoa pada intinya tentu adalah meminta bukan? Akhir-akhir ini saya menyadari bahwa ada begitu banyak yang saya minta kepada Tuhan dan sepertinya proses meminta-minta ini tidak ada habisnya. Kebetulan saya baru lulus kuliah, atau singkatnya pengangguran. Dalam 5 masa sehabis ibadah sholat yang saya tunaikan dalam satu hari, tidak pernah absen saya meminta agar diberikan kesabaran dalam menunggu dan agar segera dijodohkan dengan pekerjaan yang baik. Kemudian saya sadar bahwa dua atau tiga bulan yang lalu yang menjadi inti doa saya adalah agar dimudahkan dalam menyelesaikan skripsi dan dilancarkan dalam menghadapi sidang pendadaran. Empat tahun sebelumnya saya sedang terseok-seok mengikuti bimbingan belajar dan tidak hentinya berdoa agar bisa lulus SNMPTN. Tiga tahun sebelumnya tentu doa-doa dipanjatkan agar bisa mengerjakan ujian nasional dan masuk ke SMA yang baik. Begitu terus. Dalam setiap fase kehidupan, saya dan anda pastilah selalu meminta diberi kekuatan untuk menyelesaikannya dan bisa melangkah ke fase berikutnya.

Izinkan saya membawa anda ke bagian sebelumnya dari tulisan ini ketika saya menulis 'tentu ada permintaan yang baru bisa terpenuhi ketika saya siap untuk memberi kontraprestasi'. Ketika dikaitkan dengan permintaan kita kepada Tuhan agar dimudahkan dalam ujian, diberikan pekerjaan, atau dipertemukan dengan jodoh, kontraprestasi semacam apa yang sudah kita siapkan?

Untuk menjawab pertanyaan ini saya teringat pada sebuah ayat dalam Alquran yang bermakna:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat ayat 56)

Tentu kitab suci lain sedikit banyak mengajarkan hal yang sama. Bahwa penciptaan manusia ke muka bumi tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyembah penciptanya. Pertanyaan yang tadi saya ajukan mungkin akan dijawab dengan lebih mendalam oleh orang-orang yang lebih berilmu daripada saya. Tapi bagi saya pribadi, jawaban yang diberikan oleh ayat tersebut adalah yang paling masuk akal bagi saya. Kontraprestasi yang bisa kita berikan kepada Tuhan adalah dengan beribadah. Kalau mau dipikir, memang kontraprestasi semacam apa yang sanggup kita tawarkan kepada Dia yang Maha Mencipta? Sholat, pergi ke gereja, beribadah di pura, atau bentuk-bentuk ibadah lain mungkin adalah the least we can do or even the only thing we are capable to offer kepada Tuhan yang punya segalanya. 

Saya jadi malu sendiri. Tidak jarang saya jungkir balik sholat, puasa, dan mengaji saat ingin sesuatu namun seringkali lupa dan malas mempertahankan ketika sudah mendapatkan apa yang didamba. Kalau sudah begini, lagi-lagi saya meminta. Agar Tuhan mau mengerti bahwa saya hanya manusia culun yang imannya naik turun. Agar Tuhan tidak marah dan tetap menyayangi saya. Agar Tuhan mengetuk pintu hati saya untuk selalu merasa butuh dan rindu kepadaNya.

Comments

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

I Would Not Have Known