Kompetisi Menulis Skripsi

Terhitung sejak September 2014, kehidupan perkuliahan saya menjadi tak semenyenangkan sebelumnya. Kenapa? Karena sejak bulan tersebut saya resmi memasuki semester ke 7. Semester (mendekati) akhir yang berarti kewajiban masuk kelas semakin sedikit namun frekuensi merenung di perpustakaan semakin tinggi. Ya, biasanya pada semester tersebut, kebanyakan manusia di kampus saya mulai tenggelam dalam kesibukan akibat sebuah prasyarat lulus bernama skripsi. 

Waktu saya kecil, ayah dan ibu saya sering bercerita mengenai petualangan skripsi mereka. Betapa dosen pembimbing sibuk ke luar kota sehingga sulit ditemui untuk bimbingan dan fakta bahwa proses pengerjaan karya tulis tersebut masih menggunakan mesin ketik. Saya senang mendengar cerita-cerita tersebut. Saya kecil tidak sabar untuk tumbuh dewasa menjadi seorang mahasiswa. Seorang mahasiswa yang pada akhirnya akan sibuk wara-wiri mengurus skripsi.

Kesempatan menjadi manusia skripsi akhirnya datang di akhir September tahun lalu. Saya menghadap kepada ketua bagian Hukum Dagang untuk mengajukan beberapa judul skripsi. Si Ibu ketua bagian yang terkenal super sibuk dan tinggi tuntutan kepada mahasiswanya kemudian meminang saya untuk jadi mahasiswa bimbingannya. Saya sempat menggerutu mengutuki nasib. Bakalan susah nih bimbingan sama si Ibu. 

Benar saja, enam bulan sesudahnya saya habiskan sebagian besar untuk memikirkan si Ibu. Kenapa sms saya belum dibalas, apakah proposal saya sudah dibaca, bagaimana kalau rumusan masalah saya ditolak lagi. Terus saja begitu. Ketika akhirnya Ibu meminta saya datang ke kampus untuk bimbingan pun tidak jarang saya harus menunggu berjam-jam hanya untuk diberi tahu bahwa si Ibu terlalu sibuk dan jadwal bimbingan akan ditunda lagi. Pedih sekali. 

Bukan sekali dua kali saya menangis dalam masa-masa ini. Saya menangis saat tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ibu. Saya menangis saat diminta ganti judul oleh Ibu. Saya menangis saat rumusan masalah saya dianggap terlalu sederhana. Saya menangis ketika teman-teman yang memulai perjuangan skripsi di waktu yang berdekatan dengan saya satu persatu sidang bahkan wisuda lebih dulu. Saya menangis, merasa tidak cukup baik, merasa ketinggalan.

Saya yakin teman-teman juga sering merasa hal yang sama. Tidak hanya soal menulis skripsi tapi dalam banyak hal dalam hidup ini. Siapa sih yang bilang kalau semua orang di sekitarmu sedang skripsian berarti kamu juga harusnya skripsian? Saya pikir memang human nature ya yang memacu kita untuk bisa keep up dengan orang-orang di sekitar kita. Seperti saya yang merasa tertekan ketika banyak teman sudah didadar sementara saya masih stuck menulis pembahasan. Saya paham kalau ada perasaan-perasaan seperti itu. What I don't get is when someone lets that feeling rule them. Saya tidak paham kalau ada orang yang kemudian marah dan bahkan putus asa karena merasa tertinggal dari orang-orang sekitarnya.

Menulis skripsi, or just life in general, bukan sebuah kompetisi. Kamu tidak harus berlari kencang untuk bisa sampai pertama di garis akhir. Perkara menulis skripsi, or just life in general, is about moving at your own pace. Just because someone else needed three months to get their thesis done doesn't mean that you do. Take as much time as you need. Maybe four, five, or six months to finish it. Karena cepat atau lambat, giliran kamu akan tiba juga kok. Move at your own pace, and make sure that you are always moving. Sekali lagi, soal menulis skripsi, or just life in general, ketika kita memutuskan untuk menjadi malas dan tidak bergerak, kita tidak akan sadar berapa banyak waktu yang terlewat. Ketika sadar sudah melewatkan banyak waktu, kita akan merasa tertinggal, lalu merasa sedih, and it's going to be a lot more difficult to start again

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018