Sementara

Sore itu saya terduduk di hadapan laptop dengan hati yang sedang galau-galaunya. Sudah tiga minggu lebih saya habiskan bolak-balik ke ruangan seorang dosen demi persetujuannya atas sebuah judul. Entah si Ibu yang punya standar terlalu tinggi terhadap mahasiswa bimbingannya, atau saya yang susah payah mencapai standar tersebut dengan segala keterbatasan yang ada. Yang jelas salah satu dari alasan tersebut, atau bisa jadi kombinasi keduanya membuat hari-hari saya menjadi lebih mendung. 

Bangun di pagi hari tidak lagi semenyenangkan biasanya, pergi tidur di malam hari pun tak semudah sebelumnya. Semua karena alasan yang sama. Kekhawatiran akan sebuah prasyarat lulus bernama skripsi dan segala problematika yang mengiringinya. Menyusun maha karya terakhir sebagai seorang mahasiswa mungkin bisa lebih mudah bila dengan dosen yang lain. Sempat beberapa kali saya mengumpat dalam hati, mengutuki nasib yang menjodohkan saya dengan seseorang yang sehebat-dan karenanya mencari kesempurnaan- pembimbing saya.

Cepat-cepat saya maki sisi pecundang tersebut. Bukankah saya seharusnya bersyukur dipasangkan dengan seseorang yang akan 'menyulitkan' kelulusan saya? Karena dengan segala keluarbiasaannya tentu si Ibu akan memastikan saya memenuhi standar tingginya sebelum melepas saya ke dunia nyata yang tak kenal ampun. 

Saya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membuka sebuah situs berbagi video mencari apapun yang mungkin bisa menghibur duka lara sore itu. Proses pencarian berakhir pada sebuah lagu berjudul Sementara. Sebuah lagu yang bertutur tentang betapa sederhananya hidup karena kesulitan yang ada sekarang sifatnya sementara dan hampir pasti ada kemudahan yang datang sesudahnya.

Setelah entah berapa kali lagu itu terputar, sore saya terasa lebih ringan. 

Saya tahu saya pernah melewati yang lebih dari ini. Saya hanya harus menikmati lara sampai beberapa bulan ke depan jungkir balik demi selesainya skripsi. Tiba-tiba saya akan terdampar di suatu sudut toko kain untuk memilih dia yang paling cantik untuk dipakai menghadiri wisuda. Mungkin setelah proses tersebut saya akan diombang-ambingkan lagi oleh hidup sampai saya merasa lelah sekali. Tapi di atas segalanya saya harus selalu percaya bahwa semua itu sifatnya hanya sementara. Kemudian saya akan menjadi baik-baik saja.



"Sementara
Teduhlah hatiku, tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh

Sementara
Ingat lagi mimpi, juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Jangan henti di sini

Sementara
Lupakanlah rindu, sadarlah hatiku
Hanya ada kau dan aku

Dan sementara
Akan kukarang cerita, tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara

Percayalah hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Untuk sementara saja..."

-Float-

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

I Would Not Have Known