Untuk Sahabat yang Kini Bertoga

Halo Sahabat Kesayangan,
Surat ini aku tulis di satu bilik kecil di sudut perpustakaan dengan perasaan haru yang tiba-tiba menyelinap di tengah tumpukan tugas yang ampun-ampunan banyaknya. Di sudut perpustakaan ini juga, kamu dulu habiskan beberapa bulan dengan susah payah demi sebuah prasyarat kelulusan bernama skripsi. Hadiah untuk mama papa, demikian tulismu.

Tidak terasa ya.
Masa pembelajaran selama empat tahun di sini sudah kamu lalui dengan suka cita. Aku bersyukur karena masih sempat mampir ke hidupmu meskipun mungkin agak terlambat dan akhirnya kamu harus lulus duluan meninggalkanku dengan tumpukan tugas yang tadi aku ceritakan.

Bagaimana rasanya?
Senangkah kamu seharian berpanas-panasan menjadi orang bertoga? Senangkah kamu namamu yang tadinya hanya dua suku kata itu kini menjadi lebih panjang? Senangkah kamu kembali ke rumah bersama mama papa dan bersiap menjajal jalan ibukota?

Aku sih sedih.
Meskipun sudah satu semester terakhir aku habiskan tanpa setiap hari menemukan sosok kecilmu di gedung kuliah maupun si sekre pojokan, aku mungkin masih akan butuh waktu untuk menyadari bahwa kamu akan meninggalkan kota kecil ini demi kehidupan dewasa yang lebih baik. Meskipun mungkin akhir-akhir ini aku terlihat sok sibuk mengerjakan ini itu, tapi hampir setiap malam sebelum aku tidur atau di pagi hari saat aku bangun atau di tengah hari saat aku bersekolah, aku selalu merindu terhadap kamu dan semua ocehan pintarmu yang tak jarang lucu. Karena mungkin aku terlihat tabah akan ditinggal olehmu, aku hanya bisa berharap bahwa surat ini paling tidak bisa menyampaikan sebaliknya.

Tapi kamu jangan khawatir.
Kata orang, setahun bukan waktu yang lama. Nanti tanpa kita berdua sadari aku akan selesaikan skripsi dan sibuk pilih kain untuk hari wisudaku sendiri. Sementara di waktu yang sama tahun depan, kamu mungkin sudah sibuk mondar mandir dari kantormu ke berbagai sudut ibukota atau bahkan pelosok Indonesia demi sesuap nasi dan segenggam berlian. Dan setelah itu mungkin dengan cara yang berbeda namun semoga tetap bermakna, kita bisa tetap memberi arti bagi satu sama lain :)

Selamat menempuh hidup baru, Talitha.
Semoga seberapapun sibuknya kamu atau aku nanti, kita tidak pernah lupa bahwa satu hari di sudut kampus ini, kita pernah berjanji untuk bersahabat sampai tua. Terima kasih sudah menerima lebih dan kurangku selama ini. Terima kasih sudah mampir dan berikan pelajaran yang sangat berarti. Kamu mungkin satu dari milik saya yang hanya sedikit. Tapi kamu selalu berhasil membuat saya merasa berkecukupan dan senantiasa mengingatkan saya mensyukuri kehidupan dan indahnya persahabatan.

Selamat berjuang. Untukmu, seribu kali :)


Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

I Would Not Have Known

When You Know, You Know