Semoga Sepatu Kanan Selalu Berbahagia

Halo Mas @tulusm!
Salam kenal dari saya yang mengagumimu dari jauh.

Surat ini saya tulis dengan tulus dengan maksud kalau suatu hari nanti kamu ada waktu untuk baca, kamu jadi paham betapa banyak yang sudah kamu beri, ke banyak orang termasuk saya, lewat apa yang kamu perdengarkan. Siapa tahu saat kelak kamu sedang mengalami hari yang kurang menyenangkan, kamu bisa ingat bahwa ada banyak orang yang mengapresiasi dan merayakan keberadaanmu, misalnya lewat sepucuk surat sederhana seperti ini. Lalu harimu jadi tidak terlalu buruk lagi.

Saya harus berterima kasih pada seorang teman yang waktu itu mengantar saya pulang di suatu malam sambil bersenandung lagu Sewindu milik kamu. Saya diam saja mendengarnya bernyanyi sampai akhirnya dia heboh sendiri paksa saya untuk dengarkan versi asli lagu tersebut, suara kamu tentu saja.

Maka apabila jatuh cinta pada pandangan pertama itu benar ada, kiranya seperti itu yang saya rasa kepada kamu. Saya telah jatuh cinta pada pendengaran pertama.

Selanjutnya saya semakin sering dengar lagumu. Mendengar perasaanmu, mendengar pengalaman atau mungkin pendapatmu soal hidup yang kamu ubah jadi lagu. Saya bukan musisi ataupun orang paling nyeni di dunia. Buat saya musik itu cuma ada dua jenisnya, yang saya suka dan yang saya tidak suka. Musik kamu, saya suka. Awalnya hanya itu alasan saya menikmati karya kamu. Saya suka karena saya memang suka.

Kemudian saya sempat baca beberapa tulisan tentang kamu. Dan seingat saya, maafkan bila salah, kamu tidak memainkan alat musik apapun. Saya kaget. Menurut saya, orang yang bisa come up with such beautiful melody padahal ngga memainkan alat musik seperti kamu, adalah bukti bahwa Tuhan memang ada.

Kemudian saya sempat dengar bahwa seringkali kamu menulis lirik dari sebuah lagu terlebih dulu baru membuat musiknya. Atau bahkan tulisan-tulisanmu yang awalnya panjang itu kamu rangkum dan kamu ganti bajunya menjadi lagu. Saya kaget lagi. Saya bukan penulis tapi termasuk orang yang sangat mengapresiasi tulisan. I think writing can be a very sophisticated piece of art. Dan kiranya itu pula yang selama ini kamu lakukan. Menulis dengan indah lalu mengubah wujud tulisan tersebut tanpa sedikitpun menghilangkan keindahannya.

Ah, saya bisa terus menulis sampai pagi tentang hal-hal yang saya apresiasi dari kamu. Tapi tidak akan saya lakukan karena ada banyak keindahan lain yang masih akan kamu buat dan saya tak boleh buang-buang terlalu banyak waktu kamu.

Terima kasih Mas Tulus untuk semua perspektif baru yang kamu bagi lewat lagu. Saya selamanya akan berterima kasih karena nanti saat saya menemukan pemilik tulang rusuk saya, paling tidak kami punya lagu Teman Hidup yang bisa kami dengarkan tiap pagi sambil jatuh cinta lagi dan lagi.

Saya sih cuma berharap akan ada banyak kesempatan untuk mendengarkan kamu seperti bulan lalu waktu kamu main ke Jogja. Oh, saya juga berharap supaya tanggal 19 Februari besok berjalan lancar untuk kamu.

Dan sebagaimana doamu ke banyak orang, saya juga berdoa semoga kamu selalu berbahagia.





P.S.: Ngga sabar banget dengerin #AlbumGajahTulus :))



Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

I Would Not Have Known