Tentang Putus Cinta

Tidak. Tulisan ini tidak dibuat karena saya baru saja putus cinta.

Tapi baru-baru ini saya mendengar, well meskipun secara tidak langsung dari sumbernya, dua kisah putus cinta yang cukup menyayat hati. Kenapa saya bilang menyayat hati? Karena tidak ada satupun dari dua kisah yang baru patah itu yang alasan putusnya karena ribut besar, perselingkuhan, kekerasan dalam hubungan, beda agama, atau hal-hal lain yang lazimnya jadi alasan pasangan jadi mantan.

Cerita putus yang pertama sudah saya dengar cukup lama. Pasangan ini saya kenal cukup baik, lelaki maupun perempuannya. They are both smart and energetic people. Setahu saya sudah lebih dari setahun mereka menjalin hubungan dan sepenglihatan saya mereka punya a firm foundation to their relationship : the fact that they started out as best friends.

Saya ingat suatu hari sedang menghabiskan waktu dengan mereka dan si perempuan sedang memilin benang wol untuk dibuat semacam gelang. Saya lalu tanya buat siapa gelang itu. Si perempuan lalu menjawab : "Ini friendship bracelet untuk lelakiku." Saya lantas tertawa karena biar gimana juga kan mereka pacaran bukan sekedar temenan. Si perempuan kemudian berujar lagi : "He's not only my boy friend, he's my best friend." Selanjutnya saya hanya bisa tertawa kecut melihat kemesraan mereka. Waktu itu saya bilang dalam hati, the next time I get into a relationship, I want to have the kind of relationship that these guys have.

Waktu berlalu dan kami sama-sama tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Sampai suatu hari saya bertemu si perempuan dan out of the blue dia bilang kalau dia dan lelakinya sudah putus. Saya tentu saja kaget melihat pasangan yang I really look up to tiba-tiba tak lagi jadi satu. Saya spontan tanya : "Kenapa?"
Si perempuan berujar ringan : "I fell out of love, I guess."

Sampai tulisan ini dibuat saya belum pernah punya kesempatan untuk duduk manis dan mendengar soal kisah putus cinta ini secara utuh dan menyeluruh. But don't you think her answer is one of the saddest reasons to break up? Buat saya iya. Bagaimana bisa dua orang yang klaim saling cinta dan saling puja tiba-tiba bangun dan merasa sudah tak lagi merasakan hal yang sama? Saya ngga bilang itu mustahil ya. But the idea of someone falling out of love is very terrifying to me.  

Cerita putus yang pertama akan saya stop di sini.

Cerita putus yang kedua baru saya dengar sore ini, prior to this writing.
Saya kenal dengan lelakinya, tapi hanya tahu perempuannya karena si lelaki mencantumkan status hubungan mereka di jejaring sosial sejak tiga tahun yang lalu. Ya, tiga tahun bersama dan nampaknya baik-baik saja, tiba-tiba saya melihat si lelaki memasang status hubungan dengan wanita lain.
"Loh kapan putus sama yang lama?" Bisik saya dalam hati.

Long story short saya kemudian membaca tulisan si perempuan dalam blog pribadinya yang kebetulan membahas kisah cintanya yang baru usai ini. Dalam tulisannya si perempuan berujar bahwa dalam hubungan mereka yang cukup lama ini memang tidak ada masalah, tapi justru di situ letak masalah mereka. Mereka, menurut si perempuan, tidak pernah mempermasalahkan hal-hal yang seharusnya jadi masalah. Terlalu santai sehingga tidak pernah ada dinamika. They lack of something that makes them fight for their relationship.

Mengutip tulisan si perempuan, "He was never my 'home', simply because he was never there when I needed him." Si perempuan, dari gaya menulisnya, sepertinya sudah dapat mengambil hikmah dari selesainya hubungan tersebut dan sedang dalam usaha mencari rumahnya yang sesungguhnya.

Dari dua kisah di atas saya jadi paham that it doesn't always take a huge fight to end a relationship. Or things that are very principle. Bahwa hubungan bisa begitu saja berakhir karena hal-hal sederhana yang tidak pernah kita duga tapi ternyata pelan-pelan menggerogoti hubungan kita.

Saya pernah putus cinta.
Dan dari pengalaman putus cinta saya, ada banyak yang telah saya pelajari. Saya bersyukur tidak perlu go through another relationship to know that the aforementioned reasons are bad too. Saya beryukur bahwa yang saya punya sekarang paling tidak adalah my best friend and somehow my home.

Saya tidak bisa jamin bahwa perasaan saya akan selalu ada untuknya dan dia pun tak perlu memberi jaminan apapun ke saya. Tapi seperti katanya, "Sit back and relax. Let me love you the best that I can for now."

Mungkin ini juga tugas kita semua, untuk mencintai sebaik-baiknya yang kita bisa, paling tidak untuk hari ini.

Popular posts from this blog

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018

When You Know, You Know

Self Publishing More, Self Editing Later (As You Go On)