Kita Coba Lagi Ya?

Saya sedih. Bukan karena kebelum-berhasilan kita semalam. Saya sedih membayangkan kamu tak bisa tidur beberapa malam terakhir hanya untuk mendengar kabar ini. Saya sedih. Sampai mengangkat telepon dan mengajakmu bicara saja rasanya terlalu berat. Saya minta maaf. I wish I could make it happen for all of us. Tapi mungkin at this point, it's not really up to me or anyone anymore. Ada kekuatan lain yang lebih tahu dari semua yang kita pikir kita kuasai. Kekuatan itu yang pasti menulis cerita lain yang lebih baik untuk saya dan kamu. Kita hanya belum tahu.

"Kita buka puasa bareng yuk nanti. Mau nangis bareng juga boleh..."
Katamu tadi pagi. Harus saya tolak. Bukan karena saya tidak sayang sama kamu. Tapi tak sampai hati melihat wajah yang biasanya penuh tawa harus berlinang air mata. Saya benci diri saya. Karena waktu menulis surat ini, I really wanted it to sound beautiful. I wanted it to somehow touch and comfort you that you need to be sad no more. Tapi mungkin saya telah gagal lagi.

"Besok aja ya ketemunya. Mamaku udah masak buat buka puasa nanti sore."
Balasku. Saya harap sedih itu sudah hilang dari kamu saat besok kita bertemu. Atau entah darimana dan bagaimana, saya diberi cukup kekuatan untuk memeluk dan menguatkan kamu.

Nanti kita coba lagi ya?


*


Popular posts from this blog

The Perks of Being a Member of Working Class

It used to suck

Self Publishing More, Self Editing Later (As You Go On)