Kapan Baik Kita Cukup Baik

Aku bosan berkulit langsat, kamu tak suka kulit putihmu
Aku cinta rambut lurusmu, kamu rela membunuh demi rambut ikalku
Mengapa kita mendamba pada yang tak kita punya?
Bukan mensyukuri apa yang ada saat ini, atau malah bersyukur bisa sekedar memiliki

Aku tak cukup pintar, kamu selalu jadi nomor satu
Aku jarang menang, piala itu sering kamu bawa pulang
Mengapa iri dengki tak habis-habis pada yang kita tak capai?
Bukan pulang ke rumah dan berbenah, mungkin besok tak lagi-lagi salah, kalah

Kapan baikku menjadi cukup baik?
Kapan baikku sebaik kamu?
Kapan aku seperti kamu?
Kenapa kamu bisa seperti itu?
Kenapa aku ingin menjadi kamu?
Kenapa aku terus menggerutu?

Pernahkah kamu merasa seperti ini?
Merasa ingin jadi ini, itu, mungkin jadi aku
Pernahkah kamu pikir soal malu?
Merasa kita sudah terlalu tua untuk iri dengki?

Pulanglah
Pulang ke rumah dan berbenah
Mungkin besok tak lagi salah, tak kalah


Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

I Would Not Have Known