Untuk Talitha

Sebagian orang mungkin cukup beruntung bertemu belahan hatinya, atau untuk kepentingan tulisan ini, sahabat sejatinya sejak usia yang cukup muda. Mungkin kenal waktu masa sekolah dasar, mulai karib saat di sekolah menengah, lalu masih bisa haha hihi menertawakan masa lalu saat sudah kuliah atau kerja. Sebagian orang yang lain juga tak kalah beruntung bisa bertemu sahabat jiwanya di suatu hari dan dalam tempo cukup singkat sudah dapat terkoneksi begitu eratnya. Misalnya bertemu di saat ospek dan berkelompok hanya untuk tiga hari, namun terus bersahabat karib bahkan setelah terpisahkan oleh sibuknya pekerjaan masing-masing. Sebagian-sebagian yang lain, tentu dengan keberuntungannya masing-masing, akhirnya dipertemukan oleh waktu dengan sahabat mereka. Untungnya, saya termasuk sebagian orang yang beruntung itu.

Saya bertemu dengan Talitha jauh-jauh di masa lalu saat kami berdua masih berseragam putih biru. Waktu saya masih mempertanyakan banyak hal dalam hidup ini. Sekarang pun masih, bedanya sekarang saya berusaha mencari tahu. Dulu saya lebih memilih mengarang jawaban palsu dan menggerutu. Talitha was already cool back then. Meskipun sudah saling mengenal, tiga tahun kami habiskan di satu gedung namun tak pernah di satu ruang kelas yang sama. Percakapan paling bermutu yang pernah kami miliki-menurut ingatan Talitha- adalah percakapan tentang seorang biduan kesukaan di samping gerobak penjual siomay pada masa istirahat. Beberapa tahun berlalu dan kami melanjutkan hidup tanpa tahu kabar satu sama lain. Saya dengan perjalanan saya, Talitha dengan perjalanannya. 

Sampai akhirnya kami dipertemukan lagi di salah satu kota kesukaan saya hampir dua tahun yang lalu. Talitha kaget, saya juga kaget. Lebih kaget lagi bila memikirkan how far our friendship has gone in just one and a half years. Saya dan Talitha yang bertahun-tahun lalu hampir tak pernah saling sapa, sekarang hampir tidak pernah melewatkan hari tanpa bertukar berbagai cerita. Talitha jadi saksi hidup naik turunnya hidup saya selama kuliah, apa yang saya impikan, apa yang saya takutkan. Talitha dengan sabarnya mendengarkan celotehan saya tentang berbagai tuntutan saya atas hidup dan kehidupan. Talitha dengan bijaknya mengajarkan saya untuk senantiasa objektif dan tidak terlalu terbawa perasaan. Talitha dengan centilnya menertawai semua kebodohan saya yang jumlahnya tak sedikit dan tak pernah lupa mengapresiasi pencapaian saya yang jumlahnya tak banyak.

Hari ini sahabat saya Talitha Luthfia berulang tahun. Sahabat saya menggenapi arti kedewasaan sebagaimana yang disyaratkan pasal 330 KUHPerdata. Saya ingat bahwa seorang bijak di linimasa pernah berucap bahwa ulang tahun tidak seharusnya dirayakan. Ulang tahun bukan saat dimana seseorang harus didoakan habis-habisan dan diberikan bermacam hadiah. Karena sejatinya tiap hari adalah berkah yang harus disyukuri dan dirayakan dengan berbuat kebaikan. Karena sejatinya mendoakan dan memberi hadiah pada orang-orang tersayang bisa dilakukan tiap hari tanpa perlu menunggu perayaan hari kelahiran.

Tapi biarlah tulisan ini tetap saya kirimkan di hari ini. Toh doa untuk salah satu sahabat terbaik saya ini akan saya dendangkan setiap saat. Semoga kamu senantiasa berbahagia, Talitha! Berbahagia atas semua yang baik-baik dan kemampuan mengambil hikmah dari yang pahit-pahit. Katanya bersyukur atas nikmat lebih utama ketimbang sabar atas cobaan. Jadi jangan pernah lupa bersyukur ya. Akupun tentu akan selalu bersyukur atas nikmat persahabatan denganmu.

Ada setitik haru yang mengembang di benakku saat mengakhiri tulisan ini. Kita tak mampu dan tak perlu berjanji akan sepanjang apa kebersamaan kita nanti karena semua kembali pada izin Tuhan. Tapi bila Dia izinkan kita bertukar cerita hingga lanjut usia nanti, tentu cukuplah kebahagiaanku sebagai seorang sahabat.

Terima kasih Talitha untuk hati yang begitu luas dan ikhlas menerima lebih dan kurangku. Semoga Yang Maha Cinta senantiasa memantaskanmu untuk seorang imam terbaik yang akan membahagiakanmu dunia akhirat serta menyiapkan untukmu sebuah kisah cinta yang paling indah untuk kamu ceritakan padaku juga kelak.

Selamat ulang tahun Talitha, untukmu seribu kali...




Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

I Would Not Have Known

When You Know, You Know