Absurd

Absurd. Mulaimu.

Entah sudah berapa kali kamu untai kata itu dalam percakapan kita beberapa hari ini. Obrolan-obrolan sederhana yang lalu ngalur-ngidul kemana-mana. Obrolan yang kemudian ditutup dengan tanda tanya besar dalam hati kita tentang apa itu absurd serta segala sifat dan kata benda yang lahir darinya. Yang belakangan menjadi bebanmu, yang lalu tak mau hilang dari kepalaku.

Sungguh aku tak ragu bila ingat ucapan ibuku, bahwa manusia sungguh makhluk paling sok tahu. Sesuka hati menebak yang di masa depan, seenak udelnya menganalisa yang di masa lalu. Lalu bingung mau diapakan masa yang sekarang ini. Masa yang kamu bilang sedang menjadi absurd bagimu.

Aku pikir menulis beberapa kata di sana-sini -berharap suatu hari kamu membacanya- dapat menghilangkan kebingunganku. Kebingungan yang entah bersumber darimana. Mungkin tertular bingungmu. Bingung yang ada di dalamku biarlah ku simpan dulu. Tak sampai hati melihatmu menampung tambahan bingung dariku.

Teman, dalam perjalanan hidupmu yang lebih panjang beberapa ratus hari dariku itu tentu sudah sering kau dengar berbagai cerita, petuah, puisi dan lagu merdu yang menyuruhmu untuk melawan rasa takutmu. Untuk membuktikan bahwa kamu lebih besar dari rasa itu, atau kalaupun tidak, sesungguhnya ada satu kekuatan lain di luar kita yang paling superior di antara segalanya. Bahwa sejatinya kekuatan itu yang akan memberanikan diri mengajakmu bangkit lagi, entah bagaimana caranya.

Ayo! Kamu yang ku kenal bukan tipe cupu seperti ini. Never be afraid of failing; be afraid of not trying. Bayangkan ada berapa banyak kesempatan yang mungkin kamu lewatkan kalau kamu ikuti rasa takutmu yang sialan itu!

Coba lagi! Jangan berhenti!

Mungkin tulisan ini justru akan menambah absurd hidup kita. Tapi tak mengapa. Biar aku kirim doa untuk kamu yang jauh disana. Biar se-absurd apapun setiap kata yang kutulis malam ini bisa membuatmu tersenyum lalu merasa lebih baik. Walau cuma sedikit.

Ada doa lain yang semoga menemanimu berjalan menapaki lintasan baru yang belum kau kenal ini. Bukan cuma aku yang berdoa untuk kebaikanmu. Mereka juga. Kami semua, meski dari jauh. Jadi kamu jangan takut lagi ya. Jangan terus-terusan merasa absurd.

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018