Selamat Ulang Tahun, Adik


Untuk adik kecil yang aku kenal selama empat belas tahun ke belakang,

Izinkan aku menumpahkan segenap rasa sayang dan kebanggaan kepadamu lewat surat ini ya.

Bayi kecil yang dulu sangat kutunggu kehadirannya, lantas sempat aku benci saat semua perhatian tertuju padanya. Dik, pipimu waktu kecil nampak tidak proporsional dengan bagian tubuhmu yang lain. Kamu jadi terlihat seperti bayi tak bermata akibat gembulnya pipi kanan kirimu. Selalu ku ingat pipi itu saat tingkahmu membuat kesal hatiku. Untungnya pipimu menggemaskan ya dik.

Lalu pelan-pelan gigimu mulai tumbuh, tanpa ampun menggigit saat kamu kesal padaku. Tanganku, kakiku, wajahku, semua bagianku jadi sasaranmu. Jari-jari tanganmu yang hanya separuh ukuran jari-jariku mulai lihai menyusuri rambut ikalku, menjambak bolak balik saat aku tak menuruti inginmu.

Ingat waktu tanganmu patah? Gips putih super keras yang membalut lengan kananmu itu kamu jadikan senjata baru untuk bertarung denganku. Aku yang cinta damai dan pada dasarnya memang cengeng ini selalu berinisiatif menyudahi pergulatan. Mengibarkan bendera putih dan menyerah kalah. Tentu sambil berlindung di balik baju mama. Kamu masih agak gendut, ditambah sedikit nakal, brutal.

Adik, di atas segalanya, sungguh aku yang paling bahagia mendapatimu sebagai bagian dariku - betapapun aku sering menceritakan kekonyolan dan kebodohanmu lalu tertawa girang bersama teman-temanku.

Aku menyimpan kekaguman dibalik semua marahku padamu. Kamu yang selalu mendapat nilai bagus padahal aku -merasa- jauh lebih rajin darimu. Kamu yang enam tahun lebih muda namun kadang mampu melihat dunia dari kacamata yang lebih dewasa dari umurmu. Kamu yang cuek dan senang mencoba hal yang baru. Kamu yang seminggu belakangan dengan hebatnya menunjukan padaku apa arti kekuatan :")

Adik, terima kasih sudah menerima lebih dan kurangku seumur hidupmu. Terima kasih telah membuatku merasa jadi seseorang yang lebih baik saat melihat keberhasilanmu. Terima kasih telah menjadi sandaranku dan bilang aku mampu saat aku meragu. Terima kasih karena selalu ada dan menyayangiku lebih dari yang aku tahu. Terima kasih, karena saat seisi dunia mungkin menolak dan menjauh dariku, aku masih bisa berpegang pada harapan bahwa kamu akan selalu mendukungku.

Perjalananmu baru dimulai, berlarilah!
Jangan pernah lupa aku akan selalu punya waktu dan cinta untukmu.
Selamat berbahagia adik, aku sayang padamu.


Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

I Would Not Have Known

When You Know, You Know