B

Selamat malam, kamu yang sedang berdiam di rumah tuhan :)

Tadi siang aku berkunjung ke rumahmu. Rumah sederhana tapi bersahaja, yang tak hanya dipenuhi tumbuhan rindang di luarnya namun juga begitu banyak cinta di dalamnya. Rumah yang bisa jadi merupakan salah satu rumah kesukaanku di seluruh dunia. Rumah yang aku tak pernah tahu kapan dibangun, kapan dibeli, kapan, kapan dan kapannya, namun aku tahu aku akan selalu bisa pulang ke sana. Bahwa sampai kapanpun-selama tuhan masih mengizinkan- rumahmu akan senantiasa menyambut kehadiranku.

Hari ini sudah hari ke 27 berpuasa. Aku tak hentinya menggerutu lantaran adzan maghrib di sini lebih lama 20 menit dari tempat aku biasa berpuasa. Aku tak hentinya mengeluh tentang betapa panas dan macetnya kota. Tapi pagi ini aku bangun dengan semangat empat lima. Karena nampaknya si hati tahu aku akan pulang ke rumahmu, dan mungkin saja bertemu denganmu. Meskipun aku tahu, kemungkinannya 1 : 1000 kunjungan untuk bisa menemui kamu yang bocah petualang itu di rumah. Tapi tak apa. Toh seisi rumahmu juga bagian yang tak kalah seru. Ibumu sudah lama ku anggap seperti ibuku sendiri. Adikmu yang suka mengesalkan itu telah lama menjadi teman baikku. Aku pun selalu gembira saat bertemu anggota keluargamu yang lain. Ayahmu, abang-abangmu.

Oh ya, soal ayahmu. Sungguh hatiku jumpalitan saat ayahmu memanggil namaku setelah ku ucap salam di depan pintu. Ayahmu masih ingat namaku! Ayahmu ingat padaku! Padahal tak lebih dari dua kali beliau pernah bertemu denganku. Lalu aku makin terharu waktu ibumu yang dari ruang tamu setengah berlari ke arahku, memeluk aku. Aneh, perasaan hangat ini juga ku rasakan saat memeluk ibuku. Tadi sudah ku bilang kan, bagaimana aku menganggap ibumu seperti ibuku sendiri. Semoga kamu tak keberatan.

Kamu, sudah banyak tahun yang kita lewati sendiri-sendiri. Tapi kehangatan dan semua pelajaran darimu masih menjadi bagian penting dari hidupku. Aku senang pernah mengenalmu. Senang pernah dekat denganmu. Tahu apa kesukaanmu, ketakutanmu, impianmu, kekuatanmu, kelemahanmu. Tahu sedikit-sedikit tentang kamu. Aku tentu akan jadi orang yang jauh berbeda bila tak pernah ada kamu dalam hidupku.

Oh ya, buku barumu yang sudah setahun bersamaku akhirnya berhasil pulang ke rumahnya. Waktumu untuk membaca keindahan di dalamnya. Keindahan yang dengan ikhlasnya kamu izinkan untuk aku nikmati lebih dulu. Terima kasih ya, semoga tuhan segera mengagendakan sebuah pertemuan baik dimana kita jadi lakon utamanya :)

Dari aku yang mendoakanmu.

Popular posts from this blog

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018

When You Know, You Know

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live