Masa Lalu

Coba kamu ingat-ingat lagi, seberapa sering kamu duduk diam sambil mengingat masa lalu?

Bukan sekedar masa sepuluh tahun yang lalu, masa yang jauh dulu, namun juga masa lalu yang baru saja berlalu, misalnya kemarin. Seberapa sering kamu ingat-ingat lagi semua kalimat yang kamu ucapkan hari ini, wajah siapa saja yang kamu temui tadi. Seberapa sering kamu berharap tidak mengatakan kalimat-kalimat tersebut, seberapa sering kamu berharap tak menemui wajah-wajah tersebut.

Sungguh saya mengenal dengan amat dalam seseorang yang terlalu sering berkunjung ke masa lalu. Dia yang selalu mengingat kalimat-kalimat yang pernah dia ucapkan, berharap bisa menarik kembali kata-katanya. Dia yang kadang nyeri mengingat beberapa orang yang datang di masa lalunya, berharap tak perlu berhadapan dengan kenangan tentang mereka.

Dia yang mungkin mirip sekali dengan saya, juga dengan kamu.

Seberapa sering kita menyesali kata-kata yang mungkin menyakiti; seberapa berat kita mencoba mengusir orang-orang yang kita pinjamkan tempat istimewa dalam hati. Seberapa sering kita berharap bahwa semua hal dalam hidup ini bisa terjadi sesuai ingin kita masing-masing, yang dulu; yang sekarang; yang di masa depan. Seandainya semua bisa berjalan sesuai dengan definisi 'baik-baik saja'.

Tapi mau sampai kapan dia, saya dan kamu terpenjara dalam kenangan dan penyesalan di masa lalu? Sampai kapan kita kuat hidup sambil menangisi kesalahan yang rasanya tak bisa diperbaiki lagi?

"Don't waste your time looking back at what you've lost. Move on; life is not meant to be traveled backwards."

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

I Would Not Have Known

When You Know, You Know