The Art of Letting Go

Kalau boleh jujur, sebenarnya saya ini penggemar sepakbola musiman. Saya cuma rela begadang nonton bola saat datang musimnya piala Dunia atau piala-piala lain yang tak kalah prestisnya. Itupun cuma nonton mulai semifinalnya saja. Malas mengikuti dari awal, bela saya. Perlu diketahui bahwa saya juga bukan manusia yang paham cara kerjanya sepak bola. Yang saya tahu manusia-manusia ini harus memasukan bola ke gawang lawannya dan sebisa mungkin tidak melakukan pelanggaran. Soal memahami strategi menyerang dan bertahan atau bagaimana peraturan itu dilanggar, jurus saya cuma satu : menjadi pendengar yang baik. Mendengar apa yang dicuap-cuapkan oleh komentator atau apa yang dikoar-koarkan orang yang nonton bareng saya. Selebihnya, saya hanya akan ikut panik atau memekik saat bola nyaris masuk gawang.

Nah, kebetulan penyelenggaraan piala Euro yang baru rampung ini bertepatan dengan jadwal ujian akhir semester saya. Jadi saya punya alasan pembenar untuk tidak memahami apa yang orang-orang bicarakan soal Euro. Sibuk belajar, begitu saya tipu-tipu. Ujianpun akhirnya kelar dan euforia Euro ini sudah sampai ke semifinal. Ayah saya-yang sebenarnya bukan maniak sepakbola- mati-matian mendukung Italia dan memaksa saya ikut timnya. Tim pendukung Italia maksudnya. Saya yang sebenarnya ilalang yang tak tahu arah pulang kalau soal bola ini akhirnya setuju. Ikut mendoakan yang terbaik untuk Italia; terutama untuk penjaga gawangnya. Kekaguman saya pada beliau ini sebenarnya dimulai sejak kelas 3 SMP. Waktu itu seorang teman  saya merupakan pendukung Italia dan pengagum berat Gianluigi Buffon. Saya yang waktu itu semacam suka padanya jadi sok-sok mengagumi Italia beserta penjaga gawangnya. Jadi saat Buffon hadir kembali di layar kaca saya putuskan untuk kembali mendoakannya, seperti saat enam tahun yang lalu.

Saya ingat betapa bangganya saya saat Italia bermain apik melawan Jerman di semifinal. Dalam hati saya berbisik semoga kemenangan ini berlanjut sampai akhir. Semoga punggawa-punggawa Italia diberikan semangat dan kerendahan hati untuk mengharumkan nama negaranya.

Tapi seperti yang orang-orang bilang, bola itu bundar and anything can happen in 90 minutes. Pirlo dan kawan-kawan yang katanya jagoan itu dipaksa bertekuk lutut mengakui kehebatan Spanyol. Miris sekali melihat Buffon yang saya doakan dari rumah itu harus kebobolan empat kali. I'm sure he's so much better than that. Tapi kalaupun pada akhirnya harus puas berada di urutan kedua, they seemed to handle it pretty well.



Sejatinya seperti hal-hal lain dalam hidup ini, semuanya memang soal bagaimana kita memasrahkan apa yang bukan kekuasaan kita. The art of letting go. Italia bukan tim kacangan yang baru belajar main bola kemarin sore. Tapi fakta bahwa mereka tidak keluar sebagai pemenang ya memang harus diterima dengan lapang dada. Karena seklise apapun, hasil akhir bukan lagi urusan kita sebagai hamba. Kuasa kita hanyalah untuk memberikan yang terbaik saat menjalani prosesnya. Italia tentu sudah berjuang sampai titik darah penghabisan. Perkara menang atau kalah, seberapapun menyakitkannya, mereka harus bisa let go. Saya yang cuma penggemar musiman ini juga harus let go, karena mungkin di piala-piala selanjutnya tidak akan melihat Buffon lagi.

Life is what happens when you're busy planning something else, demikan quote yang sering diucapkan Ayah saya. Sering sekali kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan? Mari sama-sama belajar ikhlas untuk let go, sebesar apapun rasa kecewa kita.

Popular posts from this blog

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018

When You Know, You Know

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live