Rindu Sendu yang Malu-Malu

Sejatinya kerinduan yang paling sendu adalah kerinduan terhadap masa lalu. Merindu pada hari-hari yang biru, merindu pada cinta melulu, merindu terkadang pada kita yang dulu. 

Ingat masa kecil yang kamu habiskan dengan teman-teman ingusanmu? Berlarian sepanjang siang tak mau pulang bahkan setelah senja menjelang. Masa yang kamu habiskan sambil tertawa, menangis sebentar, lalu tertawa lagi karena memang begitulah cara kamu hidup, tak pernah redup. Kamu yang tak pernah meragu pada masa lalu apalagi segan pada masa depan. Kamu hidup untuk hari ini sambil mengajak imajinasi jungkir balik menggambar kebahagiaan sampai hari habis nanti.

Ingat masa tanggung saat kamu selalu merenung? Mengapa kamu tak seindah mereka atau mengapa mereka tak peduli pada bagaimana rasamu. Kamu yang mempertanyakan untuk apa ada kemarin, hari ini dan hari esok. Bukannya menikmati hari yang Dia berikan, kamu tergesa berlari agar waktu cepat dihabiskan.

Tengok kamu yang hari ini!
Kamu yang mungkin belum dewasa dan tak bijaksana tapi sedang menumbuhkan keberanian untuk melangkah  ke sana. Ke sebuah tempat yang kamu bahkan tak tahu. Tentu soal tempat ini kamu tak perlu meragu. Masa lalu mungkin sendu, membuatmu merindu malu-malu. Tapi tanpa kamu yang dulu tentu tak akan jadi seperti sekarang, dirimu.

Sejatinya kerinduan yang paling sendu adalah kerinduan terhadap masa lalu. Merindu pada hari-hari yang biru, merindu pada cinta melulu, merindu terkadang pada kita yang dulu. Mungkin kerinduan macam ini akan senantiasa menjadi candu. Karena tak peduli seberapa besar rindumu, tak akan mungkin kamu bisa bertemu. Bertemu dengan masa lalumu.

Tapi tak apa. Beruntunglah mereka yang masih punya masa lalu untuk dikirimi rindu. Karena pasti setiap kita ingin menjadi yang terbaik hari ini, agar kelak di masa depan punya masa lalu untuk kita rindukan.

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

I Would Not Have Known

When You Know, You Know