Definisi Sayang yang Baru

Sudah dua bulan lebih saya ngga menemukan waktu yang cukup untuk dihabiskan dengan menulis sesuatu disini. Bahkan jurnal biru tua yang sering saya jadikan tempat bercerita saja sudah jarang saya tengok. Mungkinkah ini karena saya terlalu sibuk bersenang-senang di dunia nyata? Semoga memang demikian keadaannya.

Tapi malam ini saya sempatkan untuk menuliskan perasaan hangat dan menyenangkan yang saya rasakan sebulan ini, terutama tujuh hari belakangan.

Tuhan katanya maha segalanya. Saya percaya itu dari dulu tapi tentu ada kalanya meragu. Nah, dengan baiknya tuhan menunjukan ke-mahakuasaan-nya itu lewat beberapa orang yang tidak pernah saya pikir akan membuat saya sebahagia ini.

Ikut lomba bukan hal yang baru buat saya. Tentu juga bukan hal yang baru buat orang lain, karena kita semua paling tidak pernah ikut lomba 17an di komplek perumahan kan? Tapi ikut lomba dengan atmosfer yang begitu menyenangkan baru saya rasakan kali ini.

Saya sesungguhnya ngga paham what my initial purpose was saat mendaftar. Begitu tahu kami harus latihan setiap hari sampai malam pun semacam membuat saya gusar. Jujur saya ini such a morning person dan gampang sekali ngantuk kalau sudah lewat maghrib. Tapi semua perasaan itu saya biarkan saja seraya berdoa pada tuhan semoga ada yang bisa saya ambil dari perjalanan kali ini.

And that's exactly what I got :)

Hampir setiap hari ada saja kejadian yang membuat saya menitikan air mata. Dari mulai sore itu saat keluarga ALSA melepas kepergian kami dengan sejumput doa. Lalu sampai di Jakarta, berkenalan dengan Tante Wenny yang sungguh cantik dan baik hatinya, serta Mba Eti yang incredibly indescribable. Tragedi kekunci di kamar saat malam pertama sampai le tuan rumah terpaksa mengeluarkan jurus silatnya. Mampir ke rumah beberapa teman dan puas menertawakan foto-foto jaman jahiliyah mereka. Menyaksikan the first slurpee and Bakmi GM experience yang memang tidak heboh tapi tetap saja jadi alasan kami untuk tertawa terbahak-bahak.

Dan tentu saja beberapa kemenangan yang tuhan amanahkan bagi kami. Entah kemenangan dalam arti yang harafiah, atau kemenangan melawan rasa malas, rasa takut, rasa bosan, rasa minder, dan rasa-rasa lainnya yang sering mengganggu tidur kami beberapa minggu ini.

Malam ini saya sempat menangis lagi. Bukan tangisan kecewa karena saya kalah ataupun tangisan bahagia karena menang. Tangisan ini simply tangisan kebanggaan untuk keluarga baru yang saya sayangi ini. Baru pertama kalinya saya menikmati indahnya berjuang bersama-sama. Saling menonton penampilan satu sama lain, saling menyemangati saat ada yang putus asa, saling memeluk saat ada yang duka.

Saya bangga, karena dengan semua kekurangan yang ada di saya dan keluarga baru ini, tuhan masih mengizinkan saya merasakan kekuatan magis yang lahir dari kasih sayang dan kebersamaan.

Apapun yang terjadi besok malam, perjalanan ini sudah merubah saya menjadi orang yang somewhat lebih baik. Dan kalau semua orang cukup beruntung untuk merasakan perasaan hangat dan menyenangkan yang saya rasakan malam ini, mungkin dunia akan jadi sebuah tempat yang jauh lebih menggemaskan.


Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018