Untuk Kamu yang Sering Saya Lukai Hatinya

Maaf kalau surat yang mereka bilang surat cinta ini saya tuliskan untuk kamu seraya bersungut-sungut.

Kepala ini masih pusing akibat menangis semalaman, muka ini lelah sudah ditekuk seharian.

Saya tahu cintamu untuk saya pasti jauh lebih besar daripada gunung Merapi, atau gunung-gunung lain yang juga besar. Bahkan lebih besar dari jagad raya ini. Lebih besar dari apapun yang besar. Begitupun cinta saya untuk kamu. Meskipun kamu mungkin meragu dan saya pun tampaknya belum punya kesempatan untuk melakukan apa saja untuk membuktikannya padamu. Apa saja.

Setiap kali saya mau pergi meninggalkan rumah untuk kuliah, atau saat kamu pamit untuk belanja sayur ke pasar, saya diliputi rasa cemas yang teramat sangat. Saya takut saat terpisah nanti sesuatu terjadi pada salah satu diantara kita yang menyebabkan frekeuensi pertemuan kita berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Saya gundah tiada tara bila kita harus menghabiskan lebih dari semalam di dua tempat yang berbeda. Saya ingin selalu bersama kamu. Bercanda, tertawa, memeluk penuh cinta. Kalau bisa saya ingin selalu tidur di sampingmu. Ingat waktu pertama kali saya memutuskan untuk tidur di kamar yang terpisah? Kamu selalu duduk di samping kasur saya sampai saya mengantuk. Lalu di tengah malam kamu akan mampir lagi ke kamar saya, menawarkan saya untuk pindah ke kamar kamu. Mungkin kamu takut saya merasa kesepian. Tapi dalam hati saya tertawa. Karena sebenarnya kamulah yang tidak pernah rela melepas saya tidur di kamar yang berbeda. Untunglah sekarang kita sudah sama-sama kuat untuk terpisah beberapa meter setiap malamnya.

Saya mungkin butuh semua kertas dan tinta yang ada di dunia ini, bila harus menuliskan bagaimana perasaan saya kepadamu. Terlalu luas untuk diseberangi, terlalu dalam untuk diselami. Saya yakin seperti itulah perasaan kamu untuk saya. Bahkan lebih. Tapi kamu yang sinis dan tak romantis itu selalu mengelak mengungkapkannya dengan kata. Untungnya saya ini mau mencoba jadi puitis. Sehingga paling tidak ada yang mengabadikan kisah cinta kita, meskipun hanya lewat tulisan sederhana.

Maaf. Maaf saya sering tanpa sengaja melukai hatimu. Maaf kalau kata-kata saya ini kadang kurang ajar. Maaf kalau saya selalu merasa benar. Maaf kalau saya membuat kamu merasa saya tidak sayang sama kamu. Itu salah! Kamu adalah yang paling saya cintai di muka bumi ini. Kalau tidak ada kamu, saya mungkin lebih memilih untuk mati. That's how much you mean to me. Maaf kalau saya sering membuat kamu gundah, resah, marah. Maafkan saya yang lagi-lagi membuat kamu duka dan nestapa semalam.

Maafkan saya :(

Dari anakmu yang kadang tidak tahu diri.

Comments

Popular posts from this blog

The Perks of Being a Member of Working Class

It used to suck

Self Publishing More, Self Editing Later (As You Go On)