terjebak nostalgia

Sudah sejak tadi sore hujan turun di rumah saya. Pertamanya deras, trus reda, rintik-rintik, dan sekarang hujannya turun lagi dengan intensitas yang normal - sebenarnya saya mau pakai kata-kata fancy untuk menggambarkan intensitas hujannya, tapi gagal total-.


Hujannya labil. Dan kelabilan hujan ini dengan kurang ajarnya menghembuskan aura gundah di sekitar kamar saya. Saya pikir gundahnya bisa hilang kalau saya keluar kamar dan mencari makanan di dapur. Salah. Kegundahan ini terlanjur menyebar ke seluruh rumah. Sayangnya hanya saya yang merasa seperti ini. Orang rumah tetap dengan riangnya mengumbar tawa.

Akhirnya dengan lunglai saya melangkah lagi ke kamar. Mencoba menghirup dalam-dalam kegundahan yang sejak tadi sore mengendap di sudut ruangan. Ini kenapa ya? Saya bertanya pada hati, merajuk pada logika. Kenapa hujan yang notabene cuma air yang jatuh dari langit ini bisa dengan seenak udelnya mengacak-acak suasana hati manusia?

Ngga peduli dimanapun dan dengan siapapun saya berada. Kalau hujan turun saya kehabisan kata dan akhirnya terjebak nostalgia. Macam Mbak Raisa. Hujan -entah dengan mantera apa- selalu berhasil mengajak saya berlari kecil ke masa lalu. Masa belasan tahun yang lalu, lima tahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, enam bulan yang lalu, seminggu yang lalu, kemarin, tadi pagi dan seterusnya.

Perjalanan menembus ruang dan waktu di kala hujan turun ini tak pernah saya lalui sendirian. Selalu saja ada orang-orang entah dari masa sekarang ataupun masa lalu yang saya 'ajak' memainkan lagi kepingan memori yang nampaknya terlalu sering saya ingat-ingat. Kepingan seperti apapun itu, kepingan suka, kepingan duka. Kepingan yang membuat saya betah berlama-lama bermanja bahkan sampai hujan sudah tiada.

Lalu orang-orang ini -entah siapa sutradaranya- kadang memainkan cerita baru yang sebelumnya tidak ada. Cerita yang mungkin hidup dalam ruang hati saya, yang lahir dari sepetak ruang bernama angan yang senantiasa membisikkan : Seandainya~

Acara gundah gulana ini bisa berlangsung cukup lama karena saya paling juara kalau soal membanding-bandingkan. Sungguh hobi kampungan ini harus sesegera mungkin saya sudahi.

Membandingkan kenyataan dengan khayalan.
Membandingkan masa lalu dengan masa sekarang.
Membandingkan diri sendiri dengan saudara, teman, tetangga.
Membandingkan diri dengan mantan, pacar, mantannya pacar, pacarnya mantan.
Membandingkan tanah air saya dengan negaranya.
Membandingkan diri dengan orang asing yang saya temui di jalan raya.
Membandingkan diri dengan siapa saja dan apa saja.

Apa yang dibanding-bandingkan ini sungguh tak sebanding dengan dampak yang kemudian ditimbulkan.
Karena bahkan membandingkan warna bola mata saja bisa menyebabkan kegundahan tiada tara.

Beribu maaf saya haturkan karena akhirnya tulisan ini tanpa makna.

Hujan masih belum berhenti.
Tapi nampaknya saya sudah puas membandingkan dan mengucap seandainya.
Paling tidak untuk hari ini.

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

I Would Not Have Known

When You Know, You Know