selembar terima kasih di akhir minggu

Minggu ini ada banyak hal yang saya lalui. Sebagian besar diantaranya hanya hal-hal sederhana yang entah bagaimana membuat saya sungguh bersyukur. Jadi saya pikir tak ada salahnya untuk meluangkan barang lima menit untuk menuliskan betapa berterimakasihnya saya minggu ini.

Pertama, terima kasih kepada bapak berkaca mata di akademik yang melepaskan beban di pundak saya setelah dengan cerobohnya salah memilih kelas saat KRS. Dengan beberapa kali menggerakan jarinya di keyboard komputer, voila! Jadwal saya pun tidak lagi bertabrakan dan saya bisa menuntut ilmu dengan tenang :)

Kedua, terima kasih kepada seorang dosen yang tanpa beliau sadari telah mengajarkan bahwa sungguh jodoh itu urusan tuhan. Kita sebagai manusia biasa tentu tidak bisa duduk diam berpangku tangan menunggu sang jodoh datang-jodoh dalam hal apapun itu. Tapi keyakinan bahwa tuhan sudah menuliskan siapa jodoh kita kelak itu sebaiknya tetap kita pelihara. Karena bila memang sudah waktunya bertemu, kita pasti akan bertemu :)

Ketiga, terima kasih kepada ayah dan ibu karena mau berdamai dengan anaknya yang akhir-akhir ini sering pulang terlalu sore. Maaf kalau saya membuat kalian merasa diabaikan. Tapi nampaknya saya sudah sampai pada titik dimana saya ingin menghabiskan waktu lebih banyak untuk melihat dunia dan segala isinya. Saya sayang sekali sama kalian. Ketahuilah bahwa selalu ada pikiran tentang kalian dimanapun saya berada dan apapun yang saya lakukan :)

Keempat, terima kasih kepada keluarga besar ALSA LC UGM yang banyak mengisi waktu saya seminggu ini. Saya mungkin belum kenal kalian satu persatu, luar dan dalam. Tapi saya ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan kalian. Saya ingin jatuh cinta dan merasakan cinta ini untuk waktu yang lama. Cinta kepada ALSA :)

Kelima, terima kasih untuk seseorang yang terkadang tingkahnya membuat saya kesal tapi selalu membuat saya terpesona setiap kali ia memutuskan untuk mengaktifkan mode seriusnya. Kemudian untuk seseorang yang satunya lagi, yang dengan tatapan mata teduhnya membuat saya tenang, senang, dan bersemangat melanjutkan apa yang telah saya mulai :)

Keenam, terima kasih untuk seorang sahabat yang dengan sabarnya mendengarkan keluh kesah saya di bawah rintik hujan hari Jumat kemarin. Tanpa menilai, tak perlu menyudutkan. Dia hanya mendengarkan lalu mendaratkan sebuah pelukan. Terima kasih juga baksonya ya :)

Ketujuh, terima kasih untuk kamu yang selalu berani mengakui ketidakromantisanmu. Tapi cerita tentang bantal yang kamu bagi kemarin sore-terlepas dari kebenaran cerita itu sendiri- sukses membuat saya senyum sepanjang malam. Terima kasih ya sudah menjadi bagian dari hidup saya dan mengajarkan begitu banyak ilmu sederhana :)

Terakhir, tapi justru yang paling penting. Terima kasih kepada tuhan yang dengan murah hatinya mau memberikan saya kesempatan untuk melewati minggu ini. Saya berharap masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan minggu-minggu berikutnya. Bukan minggu yang datar, tenang, tak menantang. Melainkan minggu berbatu yang akan mengajarkan saya untuk jadi lebih baik dari saya minggu lalu.

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018