Last but not least

Hari ini sebenarnya saya sedih. Sedih tapi merasa -somewhat- bangga. Saya sedih karena hari ini adalah hari ke 30 dan mulai besok saya tidak lagi direpotkan dengan urusan surat cinta menye-menye lagi. Jujur saya akan merindukan kegiatan iseng yang menurut saya agak menggemaskan ini. Tiap saya bangun di pagi hari pasti lahir pertanyaan di kepala saya, hendak menulis apa hari ini. Dan besok ketika bangun di pagi hari, saya harus membiarkan pertanyaan-pertanyaan lain muncul ke permukaan. Tapi saya merasa bangga. Saya merasa seperti juara. Memang ini bukan semacam lomba dan saya pun tidak akan mendapatkan piala. Namun komitmen untuk menulis setiap hari yang saya buat 30 hari yang lalu nyatanya bertahan sampai hari ini. Komitmen pertama saya di tahun yang baru ini. Semoga ini jadi pertanda baik untuk komitmen-komitmen selanjutnya yang mungkin akan jauh lebih berarti. Seperti yang saya punya dengan kamu :)

Kamu ingat pembicaraan pertama kita hari Minggu waktu itu? Waktu kamu bertanya berita terbaru apa yang saya tahu dan saya dengan jujurnya bilang lebih sering nonton infotainment ketimbang acara berita. Lalu saya malah ngalor-ngidul cerita soal kecelakaannya Bang Ipul. Miris ya?

Sejak saat itu saya jadi sering melihat kamu di kampus. Sering melihat kamu nongkrong di ruangan kecil warna kuning di pojokan itu. Entah kenapa saya merasa kamu punya aura bersemangat yang sangat menyenangkan. Saya jadi senang kalau melihat kamu.

Saya ingat senin sore waktu kamu pertama kali menawarkan untuk mengantar pulang. Kamu bilang rumah kita searah, anggap saja ojek promo. Lalu kamu banyak cerita soal kehidupan kuliah, saya manggut-manggut mendengarkan, sesekali menimpali. Kamu pasti lupa cd apa yang kita dengarkan waktu itu. Tapi saya ingat kamu memutar cd Bruno Mars dan mengulang lagu Talking to The Moon sampai tiga kali. Saya geli dan berbisik dalam hati, mungkin kakak ini baru putus cinta.

Hari-hari berlalu dan semakin banyak perjalanan pulang ke rumah yang saya habiskan dengan kamu. Saya jadi sedikit tahu kamu orangnya seperti apa. Semakin hari saya semakin ingin tahu lebih banyak lagi. Saya sempat khawatir karena bisa jadi tak ada kesempatan untuk itu. Tapi saya yakin tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk saya dan kamu. Lalu datanglah hari Sabtu tanggal 21 itu. Mbak Raisa yang cantik dan bersuara merdu itu menjadi saksi betapa menggelikannya tingkah kita malam itu.

Ah, surat ini sebenarnya tidak perlu saya tulis apalagi saya kirim ke kamu. Saya tidak pernah bisa menyimpan rahasia, jadi apapun yang saya rasa pasti akan langsung saya sampaikan ke kamu. Tapi biarlah surat terakhir ini tetap saya selesaikan dan semoga ia membuatmu tertawa mengingat beberapa bulan yang sudah kita lewati. Kamu tentu tahu ada banyak surat yang saya tujukan untuk kamu. Suatu hari nanti, semoga kamu punya waktu untuk membalasnya ya :)

ik hou van je, Rud.

Comments

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018