Kita, yang segera pergi ke masa depan

Salam hormat untukmu, dariku.

Sampai hari ini aku masih tak habis pikir apa yang menahanmu di gubuk sempit tempat kamu bernaung itu.
Mungkin rasa, mungkin cinta, atau ketakutanmu yang bisa jadi lebih besar dari egoku.
Tak terhitung berapa ribu kali aku mengajakmu berlari.
Tapi selalu kita berdua terjebak pada pola yang sama, yang itu-itu saja.
Kamu yang bodoh itu lagi-lagi gundah, tak ingin pindah.
Aku yang kehabisan kata hanya bisa mengelus dada, menutup mata.

Seandainya tuhan berkenan mampir ke tempatku tentu akan kusampaikan sepucuk doa tentangmu.
Kamu tergelak, dadamu bergejolak.
Kamu bilang tak perlu menunggu tuhan datang karena sesungguhnya ia selalu ada.
Aku yang keras kepala ini tak bisa percaya begitu saja.
Kalau memang tuhan ada dan benar punya kuasa, mengapa dia tak juga mengubahmu?
Mengapa dia tak mengubahku? Mengubah kita berdua.

Kamu tersipu dalam persembunyianmu. Mungkin malu. Aku pun begitu.
Dan seiring senja yang hadir ke pelukan, kita bergegas, bersiap menuju masa depan.
Karena sebesar apapun ketakutanmu akan masa yang tak tentu itu, egoku akan tumbuh lebih liar.
Dan setulus apapun keenggananmu melangkah denganku, daya paksaku ini akan menarikmu pergi, lebih kuat dari gaya gravitasi yang menancapkanmu ke bumi.

Karena kamu adalah aku, dan aku adalah kamu.
Karena kita sesungguhnya satu.

Salam hormat untukku, darimu.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

I Would Not Have Known