6 x 30 hari bersamamu

Selamat pagi, Kamu.
Sejujurnya aku bingung bagaimana menuliskan rasa untukmu dalam barisan kata-kata. Setiap hari kita berjumpa, merengkuh segala warna. Logikanya, kalau memang ada yang harus aku ungkapkan padamu, ya langsung saja diungkapkan, iya toh? Tapi entah aku yang memang pemalu, atau terlanjur merasa nyaman denganmu, diriku yang sebenarnya bawel ini bila denganmu mendadak bisu. Aku harap lewat surat ini bisa kubagi sedikit perasaanku supaya kamu tahu dan tak lagi meragu.

Aku mengenal kamu hampir seumur hidupku. Tapi tak pernah aku coba menggali keindahan dan keanggunan yang kamu tawarkan. Kamu datang dan pergi tanpa berpamitan, atau mungkin lalaiku yang selalu membiarkan. Namun kamu rupanya tak pantang menyerah. Mungkin memang Dia telah menakdirkan kita bersama dalam sebuah kisah. Entah yang mana.

Kurang lebih 180 hari yang lalu, akhirnya aku bulatkan tekadku. Aku punguti lagi kepingan hatiku yang berceceran di pinggir jalan sebelum kamu datang dan memelukku. Aku yang dungu ini tentu tak tahu bagaimana masa depan akan bertingkah laku. Tapi saat menatapmu aku merasa utuh dan apapun yang kelak terjadi aku pasti akan baik-baik saja selama ada kamu.

Terima kasih ya sudah melindungi dan menjadi bagian dari diriku ini.
Aku memang bukan laki-laki, tapi bila berjanji, aku senantiasa berjuang setengah mati untuk menepati.
Apalagi janjiku denganmu, kalau kematian memang harga yang harus dibayar, tentu akan aku penuhi.
Asalkan aku bisa tetap denganmu.


where the picture belongs


Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

I Would Not Have Known