Yogyakarta

Senin, 4 Juli 2011, waktu kaki-kaki ini menyusuri pagi yang dingin di Stasiun Tugu. Hari itu bukan kali pertama aku menatap hangat keramahan yang kamu pancarkan bahkan saat matahari belum bersinar. Tapi sebuah perasaan yang tidak terdefinisi ini perlahan menyusup ke dalam jiwaku. Sambil menatap langit aku berdoa semoga Ia meridhoi kebersamaan kita. Karena mulai hari itu aku menjadi bagian darimu, paling tidak untuk empat tahun selanjutnya dalam hidupku.

Kamu, nampaknya berhasil membuatku jatuh cinta dengan segala daya magis yang mungkin bahkan tidak kamu sadari. Kamu, dengan gagah beraninya tumbuh menantang kemajuan zaman seraya berpegang teguh pada budaya dan jati diri. Satu kakimu berlari menyusuri semesta sementara kaki lainnya tertancap lekat di tempat.

Lantas dengan segala indah dan keterbatasanmu, kamu membuat aku merasa seperti budak cinta yang telah menemukan belahan jiwanya. Membuat aku merasa dilahirkan untukmu, ditakdirkan denganmu. Denganmu aku tak sanggup memikirkan masa lalu. Aku hanya ingin memuja masa yang kita bagi saat ini dan kenangan indah yang akan tetap hidup berpuluh tahun dari hari ini.

Untuk kamu, terima kasih telah dengan mesranya membuka pintu untukku. Terima kasih telah mengizinkan aku menyayangimu dan merasa nyaman denganmu. Terima kasih telah membagi suka dan duka di setiap sudut kota dan pada tiap wajah yang aku temui.

Surat ini untukmu, yang menempati daerah istimewa di hatiku.

Comments

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

I Would Not Have Known