Untuk Mas yang Saya Puja dari Jauh

Mas, masih inget saya?
Ah pasti mas sudah lupa ya. Sudah ngga terhitung berapa panggung yang Mas jamahi.
Semua lagu yang Mas mainkan, dan tentu ribuan wajah yang Mas temukan.
Saya mungkin seperti debu di tengah jalan, seperti buih di lautan.

Aduh, maafkan saya Mas kalau prolog surat ini agak kampungan.
Sebenarnya saya bingung Mas, darimana harus memulainya dan bagaimana harus mengatakannya.
Izinkan saya untuk mencobanya ya, Mas :)

Dari ribuan malam yang saya lewati dalam hidup saya yang biasa ini, ada dua malam yang cukup berkesan buat saya. Dua malam itu adalah dua malam yang saya habiskan dengan Mas.

Memang sih, dua malam itu ngga kita habiskan mesra berdua saja.
Tapi berbagi dengan ratusan bahkan ribuan orang lain sudah cukup kok buat saya.
Berbagi Mas dengan mereka yang juga memuja Mas.

Dulu, sebelum saya ketemu sama Mas, buat saya cuma ada dua aliran musik.
Aliran musik yang saya ngerti dan aliran musik yang saya ngga ngerti.
Meskipun kadang ada teman yang nekat mencekoki berbagai jenis musik lain, saya tetap aja ngga ngerti.
Buat saya, lagu-lagu mainstream yang diputar tiap hari di radio sudah cukup untuk memuaskan kebutuhan mendengar lagu saya.

Tapi malam itu, waktu takdir mengizinkan saya bertemu Mas dan mendengar musiknya Mas.
Saya senang sekali, meskipun yang saya senangi ini tidak saya mengerti.

Lagu-lagu yang Mas mainkan malam itu, belum pernah sekalipun saya dengar.
Ocehan-ocehan Mas soal jazz waktu itu pun cuma masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri.
Tapi saya ngga peduli.
Saya menyukai yang saya dengar, saya menyukai apa yang Mas perdengarkan buat saya.
Saya senang melihat begitu banyak cinta yang Mas curahkan untuk apa yang Mas mainkan.

Terima kasih ya Mas sudah membagi apa yang Mas cintai dengan saya dan banyak orang di luar sana.

Dah Mas @barrylikumahuwa !
Semoga hari Mas menyenangkan.

Comments

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

I Would Not Have Known