Untuk Janji yang Belum Terpenuhi

Izinkan aku meminta maaf kepadamu sebelum aku memulai surat ini.
Untuk semua janji yang dengan gagah beraninya aku teriakkan di hadapanmu, janji-janji yang aku bilang pasti aku penuhi suatu hari nanti. Kubilang kamu akan jadi yang pertama kuberitahu ketika cita-cita yang aku bagi di taman rumahmu waktu itu menjadi kenyataan. Lalu kamu tersenyum sendu dan setitik cairan bening mengiringi kepergianku. Saat aku meninggalkanmu sendiri di bawah temaram bulan malam minggu, untuk pergi sementara waktu. Sambil menyeka tangismu, aku berjanji akan banting tulang untuk mewujudkan mimpiku, mimpimu, mewujudkan mimpi kita. Dan waktu akan berlalu begitu cepat hingga tiba hari dimana semua janji yang kita tulis waktu itu menjadi realita. 

Tapi sayang, aku rasa ada yang kita lupakan waktu itu. Bahwa seiring berjalannya waktu akan ada banyak hal yang berubah di luar kuasa kita. For better or for worse. Aku berubah, kamu berubah, perasaan kita pun akan berubah. Maafkan aku yang terlalu naif waktu itu, dan aku pun telah memaafkan kenaifanmu. Maafkan aku yang menutup mata pada kemungkinan akan kehilanganmu. Maafkan aku karena mimpi kita yang dulu satu itu kini harus kita kejar sendiri-sendiri.

Aku percaya bahwa pada dasarnya, pertemuan adalah perpisahan yang tertunda. Tentu bijak rasanya untuk tidak lagi melihat ke belakang dan berharap ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk mencegah perpisahan. Aku dan kamu sama, kita tidak dan tak akan pernah jadi sempurna. Tapi atas nama suka dan duka yang pernah kita bagi, izinkan kamu tetap menjadi bagian dari catatan kehidupanku. Aku tak akan memaksamu untuk menempatkanku pada tempat yang sama dalam catatan kehidupanmu.

Semoga kamu tak keberatan bila aku akhiri surat ini dengan seuntai doa sederhana. Semoga sejauh apapun kaki-kaki kita ini akan terpisah nantinya, sebaris senyum akan tetap hadir saat ingatan tentang janji-janji kita waktu itu melesat cepat ke relung jiwa. Semoga tuhan yang maha segalanya itu berkenan mempertemukan kita kembali saat setidaknya sebagian janji telah kita penuhi. Untuk saat ini, semoga Dia senantiasa memperhatikan semua yang kita pertaruhkan untuk menjemput impian.

Dari aku, yang mendoakanmu.

Comments

Popular posts from this blog

When You Know, You Know

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018