Memasak Untukmu

Selamat pagi, Kamu.
Pasti masih tidur ya? Ah, rasanya hampir setiap pagi harus aku habiskan tanpamu.
Akhir-akhir ini selalu kamu yang aku pikirkan tiap aku bangun di pagi hari.
Kepada matahari aku titipkan sepucuk doa semoga Dia masih bermurah hati mengizinkan kau membuka matamu.
Sepasang mata yang setiap kali aku menatap padanya, aku merasa tak perlu menjadi siapa-siapa kecuali diriku sendiri.

Boleh ya kalau aku bercerita padamu lewat surat ini?
Pagi ini, ibuku seperti biasa memasak sarapan untukku, juga untuk ayah dan adikku.
Bukan sarapan yummy and sexy ala chef cantik yang menyapaku setiap hari Minggu.
Hanya omelet sederhana yang ibuku letakkan di piring bersama kentang goreng,
yang entah karena alasan apa, lantas membuatku terharu.

Mungkin cinta yang senantiasa ia jadikan bumbu saat masak itu, sedikit berlebihan takarannya pagi ini.
Tapi siapa yang peduli? Semua manusia pada dasarnya makhluk penuh cinta.
Jadi overdosis cinta menurutku tak akan membuat siapapun menderita.

Lalu perkara masak-memasak ini tiba-tiba menjadi serius buatku.
Membayangkan dirimu yang katanya bisa masak itu membuatku senang sekaligus ketakutan.
Aku ingin memasak untukmu, tapi entah kapan aku mampu.
Maaf ya kalau makanan yang selama ini aku berikan padamu hanya dibumbui cinta ibuku.
Bukan cinta dariku.

Ada baiknya aku sudahi suratku sampai di sini saja.
Aku punya janji membantu ibu membuat cupcake yang mudah-mudahan bisa seenak cupcake yang kemarin aku ceritakan padamu.
Aku janji, dalam acara masak-memasak pagi ini, kontribusiku akan jauh lebih besar dari biasanya.
Doakan aku ya.

Comments

Popular posts from this blog

When You Know, You Know

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018