menulis cerita pendek

Jadi tadi siang gw lagi menghabiskan some quality time sama ade gw yang umurnya enam tahun lebih muda dari gw.

Kita ngobrol ngalur ngidul ngga jelas, sampai pada suatu titik gw megang hpnya dan berniat kepo baca semua smsnya. Tapi setelah niat kepo dijalankan ternyata ngga ada sms mencurigakan yang bisa gw aduin ke nyokap. Agak mengecewakan memang.

Trus akhirnya gw iseng baca2 notesnya dia.
Dan setelah gw perhatikan dengan seksama, ternyata semua notes yang ada di hpnya dia itu cerita pendek.

Hasrat untuk ngebaca-dan lalu menertawainya- habis2an pun ngga terbendung lagi...

Gw baca satu cerpen, tentang pengamen kecil yang mau jadi dokter tapi ngga punya biaya. Lumayan mengharukan sih sebenernya, tapi gw tetep ngetawain dia.

Trus ada beberapa cerita percintaan menye menye ala remaja tanggung yang gw yakin inspirasinya dateng dari keseharian ade gw sendiri.

Akhirnya sampai ke satu cerita yang awalnya tentang persahabatan bagai kepompong tapi ternyata akhirnya agak dramatis. Sebenernya gw sih bisa nebak endingnya tapi agak terharu aja ngeliat ade gw yang kayaknya baru kemaren lahir, eh sekarang udah bisa sotoy nulis2 cerpen.

Setelah melewati perdebatan yang alot, gw berhasil memaksa dia untuk mengizinkan gw memposting cerpen dramatisnya itu. Tentunya dengan sedikit perubahan dari gw hehe.

Here it goes :

Aku, Dia
Oleh : Allya Innaz Mahardika


Namaku Mia, satu dari sekian banyak gadis culun di sekolahku. 
Ya, tebakan kalian benar, aku masih jomblo.
Banyak teman perempuanku bicara soal cinta dan kehidupan asmara mereka. 
Aku hanya bisa tertawa saat temanku Lili yang sempat menemaniku jomblo, akhirnya punya pacar.

"Mi, kamu ngga mau punya pacar?" tanya Lili suatu hari di perpustakaan.
"Nggo opo toh? Ribet." balasku dalam bahasa Jawa
"Ya biar ada yang nemenin gitu, Mi."
"Ngapain repot sih, Li, tujuan utama kita kan belajar, bukan pacaran." jawabku ngotot.
"Yo wes, terserah." sahut Lili 

Aku memang baru beberapa bulan bersekolah di sini, namun cukup banyak teman baru yang ku kenal.

""Mi, Galih gimana?" tembak Lili tiba-tiba.
"Hah? Gimana apanya?" jawabku kaget.
"Yaaa, gimana menurutmu? Waktu itu kan kamu bilang mukanya Galih lucu, Mi."
"Nggak ah, biasa aja." aku masih sibuk membolak-balik catatan kimiaku.
"Kalo Rian?" 
"Nggak." sahutku singkat sambil membetulkan letak kacamataku.
"Harris?" Lili belum kehabisan amunisi nampaknya.
"Aduh, Li, denger ya, aku ini ngga butuh dicariin pacar. Aku baik-baik aja kok jomblo begini."

Sorenya, saat sedang duduk di bangku taman, terngiang kembali percakapanku tadi siang dengan Lili.
"Apa pentingnya sih punya pacar?" kataku kesal setengah berteriak.
"Siapa yang butuh pacar emang? Ngga penting-penting banget, ngabisin waktu doang!"

"Setuju." tiba-tiba seseorang menyahut.
"Eh, mas siapa ya?" tanyaku kaget
"Tetanggamu."
"Eh, tetangga sebelah mana ya, mas? 
"Beda beberapa rumah, tapi aku sering ngeliat kamu kesini."
"Oh, duduk aja kalo gitu." aku menggeser posisi dudukku, memberikan sedikit tempat untuknya.
"Makasih ya."
Aku tersenyum malu. Dasar bodoh. Andai bisa ku tarik semua kalimat yang keluar dari mulutku tadi.

***

Tidak terasa sudah beberapa minggu aku mengenalnya. Namanya Evan. Sering kutumpahkan semua keluh kesahku padanya. Evan selalu bisa mendengarkan dan membuat hatiku tenang. Aku merasa nyaman saat dengan Evan. Aku merasa dilindungi.

Suatu hari kuputuskan untuk bertanya padanya, hal yang mungkin tak seharusnya ku tanyakan.
"Van,,,"
"Kenapa, Mi?"
"Menurut kamu, kita itu spesial ngga sih?"
"Tentu saja! Kamu pintas sains, aku jago basket. Menurutku kita spesial!"
Jawabannya tak memuaskan hatiku.

"Bukan itu, Van. Aku, dan kamu, spesial apa engga sih?"
Evan terdiam.
Dia tempatku bercerita, aku peduli padanya, dan merasa bahagia dengannya. Mengapa ia merasa biasa saja?

Evan tetap diam, lalu memutuskan untuk pamit pulang. 
Aku pun pulang dengan memendam kekecewaan.

Esoknya aku berniat mengunjungi Evan di sekolahnya yang tidak jauh dari sekolahku.
Kucari Evan kemana-mana. Kutanyai semua orang.
Tidak ada yang tahu siapa atau dimana Evan berada.

"Masa kalian ngga tau Evan, kapten tim basket sekolah?" ujarku gusar.
Semua menggelengkan kepala. 

Aku seret kakiku ke kelasnya, tapi tak juga kutemukan sosoknya.
Aku merasa dikerjai.
Seseorang menyarankan aku bertanya pada bagian kesiswaan.

"Evan?" ibu staff kesiswaan itu mengernyitkan dahi.
Ia mulai mencari di tumpukan file lamanya. Sebuah map kecoklatan ia buka. 
Foto Evan!
"Iya! Bener bu, Evan yang ini yang saya maksud." aku kegirangan karena akhirnya mendapat petunjuk tentang Evan. Pencarianku tak sia-sia.

"Mbak, si Evan ini udah ngga ada."
"Maksudnya?"
"Ya dia ini sudah menghilang gitu, mbak."
"Menghilang gimana sih bu? Ini ada fotonya."
"Mbak coba liat deh, ini foto tahun 2008, harusnya sekarang Evan sudah lulus, ngga sekolah disini lagi.
Ada gosip dia gantung diri di rumahnya." cerita ibu itu panjang lebar.

Aku seperti disengat listrik. 
Evan?
***

Geli ya?
Gw jadi inget kalo gw juga suka nulis cerita dangdut macam begini pas jaman smp dulu.
Ah, good old times :')
Yak sampai sini aja deh, kapan2 kalo ada yang ajaib2 lagi bakal gw posting lagi. 










Comments

Popular posts from this blog

The Perks of Being a Member of Working Class

It used to suck

Self Publishing More, Self Editing Later (As You Go On)