alay

Katanya kan Google itu bisa menjawab pretty much all questions that go through your mind ya?

Yaudah, barusan gw yang tiba-tiba aja kepikiran tentang alay, dengan elegannya mengetik ALAY sebagai keyword dan yaaaah, begitulah, ada banyak link yang muncul, yang di satu sisi menjawab pertanyaan gw tapi di sisi lain malah melahirkan kegundahan-kegundahan baru.

Jadi ceritanya gini :
Hari ini gw kan libur kuliah, trus berhadapanlah gw dengan dua pilihan yang dilematis.
Pertama, nyicil belajar buat UAS.
Kedua, sok lah nonton tv aja seharian.

Dengan alasan bahwa belajar dari sekarang mungkin terlalu dini untuk UAS yang masih taun depan itu, akhirnya gw dengan menyedihkannya memutuskan untuk nonton tv aja sambil bantuin nyokap masak hehe.

Tapi keputusan ini pun menimbulkan dilema baru.
Mau nonton ftv di rcti atau sctv?

Karena Rio Dewanto lagi ngga main akhirnya minat nonton ftv pun luntur.
Gw ganti channel ke SEA MTV berharap lagu-lagu yang akan diputar bisa menghilangkan kegalauan di siang hari.

Kemudian muncullah video klip ini...

Judul lagunya Berdua Bersatu, nama artisnya Forteen ( as in for teen ; untuk remaja ) awalnya gw kira mereka salah spelling aja sih, tapi ternyata orangnya emang cuma berempat bukan berempat belas.
Jadi ya it is what it is.

Lagunya biasa aja sebenernya, tentang cinta-cintaan inyiminyi gitu.
Setting videonya kalo menurut gw lumayan bagus.
Tampang anggota boybandnya juga ngga kucrut-kucrut banget sih.

Tapi akhirnya video ini sukses bikin gw geli.
Geli banget sampe gw mau marah kenapa kok segeli ini (?)

Jadi si cowo-cowo ini kan nyanyi sambil agak ngedance gitu ya, dan pas di bagian reffnya, dimana ada kata berdua, mereka menggerakkan dua jari ke arah mata mereka dengan ekspresi genit gitu.
Ummm bloon sih gw ngga bisa memilih kata-kata yang tepat untuk memvisualisasikannya.

Pokoknya lo percaya aja deh, ini gayanya bikin geli banget.

My initial reaction was : this is a cosmic joke.
Dan tanpa gw bisa bendung lagi, akhirnya keluarlah pendapat yang kalo menurut gw sangat offensive dan gw bertekad ngga akan ngatain orang pake kalimat ini.
"Ewwww alay banget sih."

Kemungkinannya emang kecil sih, tapi kalo mas-mas boyband tersebut ngebaca tulisan ini.
Gw mau minta maaf lahir batin karena udah ngatain mereka alay tadi siang :'(
Maafin aku ya mas!


Trus sore ini gw sempet baca tulisan gw di buku diary jaman sd.
Baca tulisan beberapa teman di berbagai media waktu mereka masih muda.

Dan gw jadi sibuk membatin sendiri.
Betapa alaynya gw dan beberapa teman di masa yang lalu :')
-Okay gw emang cemen, ngga berani dibilang alay sendirian, beraninya ngajak yang lain-

Sebenernya alay itu gimana sih?

Pertanyaan itu lah yang kemudian membuat gw mengetik kata ALAY dan berharap Google bisa memberikan pencerahan.

Tapi layaknya mencari definisi cinta, nampaknya ngga ada satupun definisi alay yang bisa memuaskan keingintahuan gw.
Some things are better left unsaid, I guess.

Mungkin emang gw tidak ditakdirkan untuk memahami alay malam ini.
Mungkin ngga akan pernah bisa gw memahaminya, sekeras apapun gw mencoba.

Tapi satu hal yang akhirnya berhasil gw simpulkan adalah : alay itu bukan aib.
Terserah lo mau setuju apa engga sama kesimpulan gw ini.

Menurut gw ngga adil kalo kita kemudian memakai kata alay untuk menunjuk suatu kaum sambil memberikan tatapan geli-geli menghina terhadap mereka cuma karena gaya rambut, cara berpakaian, atau acara musik yang mereka datangi tiap pagi.

Ya tapi susah juga sih untuk come up with a new word untuk mengklasifikasi mereka.
Kalo soal itu biar waktu yang menjawab deh ya.

Kesimpulan lainnya yaitu : alay merupakan sebuah proses.

Secara sadar atau engga, diakui atau tidak.
We all have had some moments in our lives, right?

Moment dimana gaya bicara, gaya busana, gaya sms, atau pose kamera kita menjurus kepada apa yang hari ini kita sebut alay.
Moment yang bikin kita geli sendiri sampe ngga ngerti mau bilang apa lagi.

Moral yang bisa gw sampaikan sih, yaaaaah ngga usah ngerasa lebih baik lah daripada orang-orang yang menurut lo alay itu.
Karena belum tentu juga kita lebih baik.
Karena mungkin in one way or another kita pernah alay juga.

Segitu dululah.

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

When You Know, You Know

I Would Not Have Known