they say good things always end.

Postingan ini soal cinta loh.
Sebenernya udah lama banget gw mau nulis tentang hal yang akan gw tulis ini. Tapi gw agak males nulis soal cinta cintaan, i think its kinda cheesy and lame :p

Jujur seumur hidup gw terbuai oleh kerumitan cinta.
It is very interesting to hear what people think about love, to see how they somehow fall in love and to eventually suffer from love.

Kalo cinta yang orientasinya ke orangtua, saudara, dan anggota keluarga lain, gw yakin sudah tertanam dalam diri kita sejak kecil dan bersemi semakin indah saat kita menyadari bahwa orang orang ini telah membawa gairah menakjubkan dalam hidup kita.

Tapi gw penasaran sejak kapan cinta yang ditujukan untuk lawan jenis bisa berkembang dalam hati seorang manusia.

Dulu, waktu gw TK, gw suka, cinta, atau mungkin merasa memiliki teman gw yang anggap saja namanya Budi. Setiap belajar atau makan gw pasti maunya duduk deket Budi, main ayunan sama dia, mewarnai sama dia, menari sama dia, bahkan meminta dia untuk berdiri di belakang gw pas foto kelas.

Apakah ini yang namanya cinta?


Kalo dari analisa gw sih, bukan.
Ini ngga lebih dari sekedar ketertarikan terhadap lawan jenis yang ternyata sudah ditunjukkan oleh anak ingusan yang bahkan belum bisa mandi sendiri.

Trus jaman SD gw pernah mengalami masa -yang dulu gw anggap sebagai masa jatuh cinta - dengan seseorang yang bahkan ngga gw kenal.
Jadi cuma karena gw sering melihat dirinya bermain futsal di lapangan saat jam istirahat, dan mengetahui namanya lewat kaos bolanya, gw dengan polosnya mendeklarasikan bahwa gw jatuh cinta sama orang ini.
Geliiiiiiii banget karena hampir setiap hari gw menulis namanya di buku diary, berharap bahwa dia juga menulis nama gw di buku diarynya, yang kayaknya mustahil juga.

Tapi gw benar benar dibutakan oleh perasaan apapun itu sampai lebih dari setahun.
And the question is :
Is it even possible to fall for someone considering their name is the only thing you know?

Kayaknya ngga mungkin juga sih, tapi kisah suka menyuka jaman SD ini selalu jadi bahan ketawaan yang ngga ada matinya diantara gw dan nyokap yang menjadi saksi hidup masa alay tersebut :p

Saat SMA, gw menjadi lebih dewasa dan sedikit lebih paham mengenai hal ini.
Namun semakin banyak yang gw pahami, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di kepala gw.

"Do people really believe in love at the first sight?"

"Mungkinkah orang memilih siapa saja yang dia suka, lalu melakukan pdkt selama seminggu dan akhirnya pacaran dengan orang tersebut atas dasar cinta?"

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk suka, lalu menjadi sayang, lalu menjadi cinta, and then turns into 'I cant live without you'?"

"Kalo seseorang punya 21 mantan pacar, apakah dia benar benar telah jatuh cinta dan melupakan ke 21 kisah tersebut sebelum memulai masa pacaran yang ke 22?"

"Apa bisa dua orang menjalani siklus teman-pacar-mantan-teman dengan normal?"

"Can we fall for someone over and over again no matter how badly they ignore us?"

"Mengapa orang bisa pacaran sampai 12 tahun namun bercerai setelah menikah selama 2 tahun?"

"Bagaimana Widyawati dan Sophan Sophian terlihat begitu romantis?"

"Mengapa orang terlihat mengebu-gebu saat awal pacaran lalu bosan setelah lewat 6 bulan?"

"Kenapa bisa dua orang yang merasa punya chemistry dan telah berjodoh lalu bubar di tengah jalan dengan dalih sudah tidak ada kecocokan?"

"Apa saat kita belajar mencintai seseorang, atau telah tanpa sadar jatuh cinta padanya, kita sadar bahwa suatu saat perasaan tersebut akan berubah bahkan hilang?"


Ah, jadi semakin bertanya-tanya.

I'm not going to wrap this up with any moral or conclusion.
Biarlah yang membaca ikut bertanya-tanya dan entah kapan menemukan jawabannya.

Popular posts from this blog

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

I Would Not Have Known

When You Know, You Know