biarpun langit cuma ada satu

"langit cuma ada satu

mengapa aku merindukanmu?

mungkin karena langit begitu luas,
tapi seluas apa?

lebih luaskah dari perasaan seorang pecinta kepada kekasihnya?
lebih luaskah dari pengharapan seorang hamba kepada tuhannya?
lebih luaskah dari kasih sayang ibu terhadap anaknya?

seluas apa?

mungkinkah ada kekuatan yang bisa mengalahkan luasnya langit?


aku sendiri, terluka, merana,
kesepian merenggut nafasku.

aku ingin bicara tapi tak tahu pada siapa
aku ingin dipeluk tapi mereka tak pernah peduli
aku hampa..


aku lalu berjalan, mencari, berlari,
berdoa sampai bibirku perih.


tuhan,,
aku berteriak padamu
sampai habis suaraku
aku belum mau mati, tuhan


aku masih berhutang pada banyak tempat
aku masih punya orang orang yang harus kusayang
aku masih punya dunia yang harus ku ubah

aku pasti mati, tapi ku mohon jangan sekarang tuhan.
jangan..


tuhan aku mohon kuatkan aku.
peluk aku tuhan

seonggok daging yang kehilangan arah
angin yang tak tahu harus berhembus kemana
setangkai bunga yang merindukan cahaya matahari

aku mencari engkau
dimana pun kau berada
dalam dimensi yang mungkin aku tak pahami
dengan bahasa yang tak akan pernah aku mengerti

tapi tempatmu,
dimanapun itu,
adalah tujuanku!

aku harus kembali

dan bila saatnya tiba nanti, aku akan berlari
aku janji

tolong peluk aku yang erat saat kita bertemu
aku rindu, dan tak pernah merasakan rindu yang sedahsyat ini.

aku butuh kekuatan itu
kekuatan yang akan mengalahkan luasnya langit

supaya aku tak perlu merindukan siapa-siapa lagi

karena langit cuma ada satu.."

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

When You Know, You Know

[A Reflection] If We Die, We Die, But First, We Live

Sabrina dan Sebuah Harapan di Tahun 2018